Wednesday, September 26, 2018

Hidayah dari sebuah "AKREDITASI"

Assalamualaikum semua..

Kali ini pengen nulis tentang sesuatu yang menurut aku "MINDBLOWING" yang sedang ku alami.
Jadi saat ini aku Alhamdulillah bekerja di salah satu pelayanan kesehatan publik di daerah deket rumah.
Disini, di tempat kerja ku, sedang Nge-HITS banget yang namanya Akreditasi, sebuah Salah satu rangkaian yang harus dan wajib di lakukan, dasarnya adalah Permenkes 75 (karena Puskesmas) dan peraturan peraturan yang lain menjadi satu kesatuan "Instrumen Akreditasi", dan semua itu harus di penuhi sebagai Syarat Ter Akreditasi, kita dinilai oleh Surveilans Kemenkes dan Goal nya hasil akhirnya penilaian tersebut lah yang menentukan Puskesmas kita ini Apakah Tingkat Paripurna, Utama,Madya,Dasar, yang intinya Kita sudah di akui oleh lembaga yang berwenang (dalam hal ini Kemenkes) untuk memberikan Pelayanan.

Udah deh, maaf kalo penjelasan masalah Akreditasi ku yang di atas salah wkwkwk, intinya yang aku mau tulis disini adalah,

Jadi kan sebelum nya saya sebagai orang di Pemeliharaan Puskesmas berusaha melengkapi dokumen dan melakukan serangkaian yang diminta "Instrumen Akreditasi" yang berhubungan dengan pekerjaan ku. Awalnya kita melakukan sesuai pemahaman kita.
Lalu kita di nilai dulu secara internal, dalam hal ini bisa dinilai oleh Suku dinas di atas kita, kita di Survei dan diberi rekomendasi yang harus kita lakukan, ini di survei oleh Suku Dinas yang lebih expert lagi dan sudah di latih sedemikian rupa, sehingga dari sini ada gap, antara "Pemahaman ku dan Pemahaman si yang Survei internal kita".
Kemudian lagi, di tingkat selanjutnya, ketika kita bener2 perang, maksudnya bener2 Akreditasi oleh Surveilans Kemenkes, bisa jadi, rekomendasi dari yang mensurvei kita berbeda dengan yang mensurvei kita sebelumnya, padahal bisa jadi sama sama sudah di latih sedemikian rupa juga. Atau bahkan kadang, berbeda orang beda Pemahaman, bisa jadi Kami Puskesmas A menggunakan konsep dari Pelatihan dari Suku Dinas di survei dengan Ibu A banyak yg lolos dan dapat nilai A, lalu Puskesmas B dengan konsep yang sama dan dinilai oleh ibu B bisa salah lagi atau beda lagi nilai nya.

Kadang ada sebuah ungkapan, "Akreditasi tergantung Surveilans nya, Surveilans nya enak atau engga? Kalo dapat yg sepemikiran bisa jadi nilai nya banyak yang bagus"

Bahkan saya pribadi yang namanya pelatihan instrumen akreditasi ini entah sudah berapa kali saking sering nya, tapi bisa jadi ketika saya mendampingi 3 Puskesmas Kelurahan dengan surveilans yang berbeda meskipun konsep kita sama bisa jadi juga beda beda nilai nya karena beda beda pemahamannya si Surveilans (ini baru yang bagian saya doang sih,yang Pemeliharaan, engga tau kalo di bagian lain seperti UKM dan UKP, jadi mohon maaf atas keterbatasan saya)

Lalu, jeng jeng jeng, Apa kaitannya hal tersebut diatas dengan Praktek secara komprehensif saya dalam menjalankan agama??????

Ini yang terjadi jaman sekarang, ketika umat Islam terbelah, menjadi beberapa Pemahaman/ kasar nya aliran. Karena ya itu tadi, bisa jadi kita sama sama punya Sumber yang sama yaitu "Al Qur'an dan Hadits/Sunnah Nabi" , tapi semua orang memiliki pemahaman yang berbeda beda dalam menafsirkan ilmu dari Al Qur'an dan Sunnah/Hadist nabi tersebut, makin ada generasi,makin memiliki pemahaman lagi, hingga terus menerus terus menerus dan saya di "Jaman Now" ini entah sudah melewati berapa jaman dan kita lihat sekarang makin banyak perbedaan.

Lalu balik lagi.....
Sama seperti Akreditasi, bisa jadi akhirnya kita memilih belajar dengan Puskesmas yang Paripurna, yang paling banyak benar nya karena sudah terbukti lolos dan dapat nilai Sempurna. Bisa jadi mereka juga yang sudah Paripurna memang Di bimbing langsung oleh "Si pembuat Instrumen Akreditasi dalam hal ini contohnya di bimbing oleh Penyusun Permenkes 75" sehingga makin mantap lah mereka karena ibaratnya Pemahamannya langsung dibimbing oleh yang Pakar asli nya.

Begitu juga dengan Islam dan Adab2 nya (kesatuan antara Ilmu dan Praktek yang dilakukan secara keseluruhan dan komprehensif ini) , kita pun harus contoh dong, orang orang yang di jamin Masuk Surga yaitu Rosullulloh dan Para Sahabat dan ilmu ilmu itu sesuai dengan Pemahaman Rosullulloh, Para Sahabat dan orang orang Soleh Jaman dahulu yang memang sudah di jamin Alloh masuk surga. Jika kita ngikutin sesuai Pemahaman mereka orang orang yang dijamin masuk surga tersebut, bukankah insyaAlloh kita juga mendapat nilai Bagus dan Paripurna disisi Alloh?? 

Karena gimana ya, sekarang itu Alhamdulillah mudah banget mendapatkan ilmu di sosial media, tapi sering nya, mereka mengatakan ilmu ilmu tersebut sesuai pemahaman mereka aja, sesuai hawa nafsu, makanya banyak yang beda beda. Bahkan ada ustad yang mohon maaf bisa jadi beliau asal ambil ilmu dari sana dari sini nanti sudah berani mengatakan di hadapan publik dan akhirnya ternyata Qodarulloh salah ilmu nya.

Kalo Akreditasi aja kita ga boleh asal ambil ilmu, lebih baik Konsul ke pakar nya, apalagi ini ilmu dunia akhirat atau agama kita?? Ya ga sih? :D aduh mohon maaf

Intinya aku rasa,aku pikir. Menjalankan kehidupan sesuai Alquran , As Sunnah, dan sesuai Pemahaman Para Salafussolih itu lebih aman. Ga kurang ga lebih. 

Begitulah yang menjadi ke "MIND-BLOWING" an aku, hanya dari sebuah Akreditasi dan bismillah semoga bisa dimudahkan Alloh belajar lagi belajar lagi menjadi lebih baik. Aamiin..

Mohon maaf, Wallohu A'lam.. Alhamdulillah..


Wassalamu'alaikum..

No comments:

Post a Comment