Tuesday, November 20, 2018

Part 7

Bismillah

Allohumma solli a'la sayyidina Muhammad wa ala Alihi Muhammad

Lanjutan hadist nya;
(Dikutip dari Sahih Bukhari No. 2661, Berdasarkan Fu’ad Abdul Baqi ,)
Maka pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri untuk kemudian meminta pertanggung jawaban ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Siapakah yang bisa mengemukakan pertanggungjawaban terhadapku terhadap seseorang yang telah kudengar telah menyakiti keluargaku?. Demi Allah, aku tidak mengetahui keluarga melainkan kebaikan semata. Sungguh mereka telah menyebut-nyebut seseorang laki-laki (maksudnya Shofwan yang diisukan selingkuh) yang aku tidak mengenalnya melainkan kebaikan semata, yang dia tidak pernah mendatangi keluargaku melainkan selalu bersamaku”.
Maka Sa’ad bin Mu’adz berdiri lalu berkata: “Wahai Rasulullah, aku akan membalaskan penghinaan ini buat anda. Seandainya orang itu dari kalangan suku Aus, kami akan penggal batang lehernya dan seandainya dari saudara-saudara kami suku Khazraj, perintahkanlah kami pasti akan kami laksanakan perintah Baginda tersebut”. Lalu beridirlah Sa’ad bin ‘Ubadah, pimpinan suku Khazraj, yang sebelumnya dia adalah orang yang shalih namun hari itu terbawa oleh sikap kesukuan: “Dusta kamu, kamu tidak akan pernah bisa membunuhnya dan tidak akan bisa membalaskannya”. Kemudian Usaid bin Hudhoir berdiri seraya berkata: “Justru kamu yang dusta, kami pasti akan membunuhnya. Sungguh kamu sudah menjadi munafiq karena membela orang-orang munafiq”.
Maka terjadilah perang mulut antara suku Aus dan Khazraj hingga sudah saling ingin melampiaskan kekesalannya padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih berdiri di atas mimbar hingga akhirnya Beliau turun lalu menenangkan mereka hingga akhirnya mereka terdiam dan Beliau pun diam.


Berikut link audio kajiannya;
https://m.soundcloud.com/the-rabbaanians/ust-muhammad-nuzul-dzikri-haaditsatul-ifki-saat-ibunda-kita-difitnah-part-07

Lanjutan Hadistul Ifki dari kajian The Rabbanians part 7

Anak muda ingin eksis,anak muda ingin dapat panggung tapi cuma ingin doang gaada kualitas. Padahal semuanya harus ada proses ga ada shortcut. Adapun Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid dikasih panggung oleh Rosullulloh karena mereka punya kualitas. Jadi kalo kita mau berkualitas,maka perbaiki kualitas. Maka bicara pemuda,pemuda bicara panggung, eksistensi, like, followers. Sedangkan pemuda yg terpenting bermanfaat bagi umat,ikhlas. Alloh mengatakan; Arrad:17 , buih itu hilang dengan cepat adapun yg bermanfaat bagi manusia itu akan eksis. Artinya orang yg berkualitas akan dapat panggung. Jika kita berkualitas maka ga perlu marketing. Seperti emas di Irian,orang Amerika pun datang tanpa harus marketing. Jika kita elegan,jika kita punya masterpiece, tanpa melamar sana melamar sini bisa jadi dia yang didatangi oleh Perusahaan Multinasional sehingga dia bingung pilih yang mana. Di saat orang lain sedang ekonomi lemah,cari pekerjaan susah tapi ada juga orang elegan yang bingung karena pilih Kerja di sana atau sini ya? Salary nya gedean yg mana ya? Kenapa dia bingung? Karena dia masterclass dan punya kualitas. Jika kita ingin eksis maka jangan pikir kita cari panggung tapi bagaimana kita memperbaiki kualitas,bagaimana kita bisa bermanfaat untuk banyak orang. Jika kita bermanfaat,maka Alloh sendiri yang akan kasih panggung, kasih eksistensi. Dan ini untuk semua bidang bukan cuma agama. Mental kita harus La Haula wala quwwata ila Billah, bergantung kepada Alloh. Bukan bergantung pada manusia. Jangan ngemis atau bergantung kepada manusia. Tapi berdoa, mengingat Alloh. Berjuang berjuang berjuang. Kalo kita ingin berhasil di dunia, maka bermanfaat lah bagi manusia. Itu kunci eksis. Buat hal yang bermanfaat. Khususnya untuk akhirat umat, dan untuk dunia umat. Dengan cara elegan. Tetap low profile dan tawadhu. Dan minta pertolongan Alloh. 


Lanjutan Hadistul Ifki
Keesokan harinya Nabi Muhammad Saw berdiri diatas mimbar. Lalu Nabi Muhammad Saw bertujuan untuk melemparkan apakah ada yang mensupport beliau atau ada yang memberi alasan kenapa isu tersebut bisa berkembang di kota Madinah. Lalu Nabi bersabda dihadapan umat islam saat itu, "Ya Ma'asyirol Muslimin,Siapa yang memberi uzur kepada diriku yang tekanannya dan serangannya sampai ke istriku?" Artinya seperti yg dijelaskan Al Hafidz Ibnu Hajar, Alasannya apa sampai dia tega menuduh istri ku berzina? 
Makna yang kedua, dan siapa yang mau mendukung ku untuk menghadapi dia?

Kita tau konsep orang Islam, kasih 70 uzur untuk saudara kita. Dan kita tau Ibnu Salul itu munafik, menyembunyikan kekafiran dengan Islam. Dan orang yang munafik itu dibakar nya di kerak neraka. Kalo orang munafik aja kita bisa kasih uzur. Bagaimana dengan saudara kita. Kasih uzur.
Ilmu itu membuat kita lebih saling menyayangi. Walaupun salah ya tetap bilang salah tapi tetap harus ada kasih sayang dan uzur. 
Padahal kesalahannya fatal, menuduh istrinya berzina. Padahal kalo mau Nabi eksekusi ya bisa karena Nabi Khalifah di Madinah. Dan juga kenapa mereka Munafik? Karena secara hitungan mereka kalah makanya mereka Munafik dan pake chasing Islam. Karena mereka secara militer dan senjata juga lemah orang munafik. 
Siapa yang mau dukung saya? Kata Rosullulloh. Karena jika yang diserang istrinya maka sama saja yg diserang adalah Nabi. Secara tidak langsung kalo mengurus istri nabi saja ga bisa (sampe berzina) gimana ngurus umat? Maka orang munafik ini menyerang nya tiktok dan transit dulu ke istrinya Aisyah. 
Dan aku tidak pernah mengetahui tentang istriku kecuali yang baik baik saja. Nabi Muhammad Saw membela istrinya sesuai dengan apa yg beliau ketahui. Aisyah baik sebaik baik nya. Kata Nabi. Dan mereka juga ga cuma nyerang Aisyah tapi juga seseorang yang selama ini kukenal baik (Shofwan bin Al Muatthol) dan orang ini tidak pernah bertemu dengan istriku kecuali bersama saya. 
Jadi Nabi membela Aisyah dan Shofwan.
Siapa yang ingin membela ku? Kata Nabi. 

Maka ada yang berdiri Sa'ad bin Mu'adz dari suku Auz, ( ada suku Auz dan Khajraz (2 suku di Madinah) )
Kalo orang itu dari suku Auz kita penggal kepalanya , tapi kalo dari Khojroz engkau tinggal bilang aja mau diapain maka akan kita eksekusi.
Begitu Sa'ad bin Mu'adz berkata demikian, Sa'ad bin Ubadah berdiri. Sa'ad bin Ubadah orang besar dari suku Khojroz. Kata Sa'ad bin Ubadah, "Wallahi, Engkau telah berdusta, Engkau tidak akan membunuh nya dan engkau tidak akan bisa membunuhnya"

Aisyah mengatakan, Sa'ad bin Ubadah ini orang Soleh, tapi pada saat itu terbawa suasana fanatik ke kabilahan. 

Ini sama sama sahabat padahal. Ini sama sama berbicara di depan forum. Intinya Sa'ad bin Ubadah ga terima kalo orang satu suku nya mau di eksekusi. Abdullah bin Ubay ibn Salul kan dari Bani Khozroz (yang munafik menghembuskan fitnah). Makanya Sa'ad bin Ubadah ga terima kalo suku nya mau di eksekusi.

Kemudian berkata lagi sepupu nya Sa'ad bin Mu'adz yaitu Usaid bin Uzair, "Kamu bohong demi Alloh ke Sa'ad bin Ubadah, kami akan bunuh orang tersebut"

Dan kondisi chaos. Udah mau perang saudara lagi. Dan Rosullulloh berusaha menenangkan. Diam semua diam. Jangan ada yang berbicara. Dan mereka sadar dan diam dan berakhir lah forum tersebut.
Akhirnya Nabi ga melanjutkan . Karena sudah ga kondusif. 

Maka dari itu harus hati-hati,oleh fanatisme terhadap suatu kelompok,suatu club. STM sama STM, SMA sama SMA, club' bola 1 dengan club' bola 1. Makanya harus waspada. Bergaul boleh . Tapi jangan fanatik pada tongkrongan. Fanatik pada suporter.
Fanatik itu ga boleh. Dan pasti akan chaos. Ini kan saad bin Mu'adz,saad bin Ubadah, kan mereka orang yang Soleh itu pun bisa kebawa suasana bisa chaos. Bergaul boleh. Punya komunitas boleh. Tapi jangan fanatik. Termasuk komunitas komunitas agama/dakwah. Ini pelajaran untuk kita jangan fanatik. Misalnya kita ngaji selama 3 tahun,lalu kita fanatik dengan ustad tsb,maka itu gagal. Dan ga boleh fanatik sama ustad. Itu hanya sarana. Kita memang berusaha yang terbaik,tapi kalo salah bilang salah,jangan fanatik. Dan ini terjadi kan?! Karena orang yang lebih berilmu itu bisa terjadi fanatik,apalagi kita yang ga mengaji. Bahkan beda Mazhab saja bisa fanatik. Para 4 imam Mazhab sudah wanti wanti, jangan fanatik jangan fanatik. Hati hati dengan fanatisme. Kita harus berpikir objektif.
Lihat Aisyah Ra, apapun alasannya apa yg dikatakan Ali bin Abi Thalib itu ga enak untuk Aisyah (saat Ali menyuruh Rosullulloh nikah lagi/ceraikan saja). Tapi Aisyah objektif. Dia ga marah sama Ali/Baper. 
Muhammad bin abi bakar (sepupu Aisyah) itu terbunuh oleh ibn khudaiz, suatu ketika Aisyah kedatangan tamu, lalu Aisyah tanya, kamu dari mana? Dan tamu tersebut berasal dari suku/wilayah ibn khudaiz,kemudian Aisyah tanya,kenal ibnu khudaiz ga?, Dan jawaban mereka , iya kenal,Ibnu khudaiz itu pemimpin kami yg jempolan deh, kalo kita perang pasti diganti sama Ibnu khudaiz (jika kita pake kuda /modalnya di balikin ,;contoh), Nah tamu ini bertanya hadist kepada Aisyah, tapi Aisyah berbicara, Meskipun Ibnu Khudaiz sudah membunuh kakak ku tapi tidak menghalangi ku untuk mengatakan satu hadist dari Nabi Muhammad Saw kepada tamu tsb (1 wilayah/suku dari Ibnu khudaiz). Jadi kita lihat bahwa Aisyah sangat objektif dan amanah. Tidak fanatik benci pada satu kaum/fanatik ke kabilahan. Hadist yg dibawakan Aisyah pada saat itu diriwayatkan oleh Imam Muslim; "ya Alloh, barangsiapa yg memimpin perkara umatku dari yg terkecil sampai terbesar (pemimpin dalam lingkup rumah tangga,RT,RW sampai lingkup yg terbesar) lalu dia lemah lembut dengan yg dia pimpin maka sikapi dia dengan lemah lembut,tapi jika dia kasar dan semena mena/zalim maka balas ya Alloh"

Ibnu Hubairah adalah Mentri di Bani Abbasiyah,suatu ketika dia keceplosan ngatain ulama keledai, kemudian dia sangat menyesal, lalu dia minta maaf kepada ulama tersebut dan minta di katain serupa biar ga dihisab di akhirat tapi ulama tersebut ga mau, dan akhirnya Ibnu Hubairah membayar ulama tersebut dengan uang yg sangat banyak agar dimaafkan.

Jadi kita harus selalu merasa bodoh,dan takut kepada Alloh. Kenapa ulama bisa objektif,karena dia merasa kecil. Imam Ahmad ketika ditanya niatnya belajar apa sih? Maka jawaban Imam Ahmad menjawab agar merasa kecil. Kita belajar harus seperti itu. Ga boleh fanatik. Dan harus objektif. Sa'ad bin Ubadah itu Soleh banget tapi masih bisa kena ke fanatikan kekabilahan. Bahkan Sa'ad bin Ubadah pernah menawari Rosullulloh untuk menjaga rumahnya agar tidak diserang musuh. Orang nya baik dan tulus. Beliau kalo perang bawa bendera Anshor. Kalo perang yang bawa bendera Rosullulloh adalah Ali bin Abi Thalib. Jadi, Sa'ad bin Ubadah saja bisa kena fanatik, dan ga terima kalo ada satu suku nya di eksekusi. Fanatisme ini bahaya.

Imam Syafi'i pernah berkata, Tidaklah aku berbicara dengan seorang muslim,diskusi dengan orang muslim,debat dengan orang muslim , ga peduli jika aku yg benar atau dia yg benar, tapi yg penting kebenaran yang bisa saya bawa pulang.

Objektivitas pada hari ini sangat langka (kata imam Malik)

Al maidah ayat 8; jangan sampai ketidaksukaan kalian terhadap suatu kaum membuat kamu tidak objektif/tidak adil dalam menilai, objektif/adil lah dalam menilai karena objektif lebih mendekatkan pada ketakwaan.

Mata kalo udah ga suka sama seseorang maka tidak ada benarnya tuh seseorang tsb. Mata manusia secara umum seperti itu. Dan mata ini kalo udah suka sama seseorang pasti bener aja orang tsb. Salah pun bisa di tafsirkan menjadi benar aja udah. Di bela orang tsb. Nah ini tidak boleh terjadi. Kita harus objektif. Kalo salah bilang salah atau benar bilang benar. 

Kita harus membangun mental objektif di dunia dakwah , pergaulan. Bukan mental menang menangan atau fanatisme. 

Q:A


  1. Apa artinya Suami mu adalah Surgamu atau Neraka mu? Jawabannya: Lihatlah bagaimana suami mu menilai mu, karena Suami mu adalah Surgamu/neraka mu. Maka lihatlah kewajiban. Seperti apapun suami kita, kita harus berupaya mendapatkan hati dia dan mendapat penilaian/keridhoan suami. Jadi tetep melakukan kewajiban menjadi istri yg baik. Bagaimanapun suami nya. Dan makanya kita cari suami yg bertakwa dan beriman kepada Allah. 
  2. Bagaimana adab jika ada orang tua yang memanggil kita dengan suara keras/teriak? Lihat Al Isro ayat 24, dan turunkan kepakan sayap kepada orang tua dan ketawadhuan kepada orangtuanya. Maka dikembalikan ke urf masing masing. Sesuai budaya masing masing. Tapi intinya kita bersikap rendah dihadapan ortu kita. Jadi kita harus melayani dan merendah di hadapan ortu kita.

Monday, October 29, 2018

Part 6

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah wassholatu wassalamu'ala Rosulillah,

Akhirnyaaa setelah terseok seok, bisa ngelanjutin part 6 Hadistul Ifki :)

Ini link audio nya

Dan ini catatan aku dalam pertemuan kajian ini :)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid ketika wahyu belum juga turun untuk mengajak keduanya bermusyawarah perihal rencana menceraikan isteri-isteri Beliau. Adapun Usamah, ia memberi isyarat kepadanya dengan apa yang diketahuinya secara persis karena kecintaannya kepada rumah tangga Rasulullah. Usamah berkata: “Keluarga Baginda wahai Rasulullah, demi Allah tidaklah kami mengenalnya melainkan kebaikan semata”. Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai Rasulullah, Allah tidak akan menyusahkan Baginda sebab masih banyak wanita-wanita lain selain dia dan tanyakanlah kepada sahaya wanitanya yang dia akan membenarkan baginda”.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Barirah lalu berkata: “Wahai Barirah, apakah kamu melihat pada diri Aisyah sesuatu yang meragukan kamu tentangnya?” Barirah menjawab: “Demi Dzat Yang mengutus Baginda dengan benar, sama sekali aku belum pernah melihat aib pada diri Aisyah yang bisa kugunakan untuk membongkar aibnya, kalaupun aku melihat sesuatu padanya tidak lebih dari sekedar perkara kecil, yang ketika dia masih sangat muda dia pernah ketiduran saat menjaga adonan rotinya, lantas ada hewan ternak datang dan memakan adonan tersebut“.
..............
( Muqaddimah part 6,
Review ilmu itu penting,Bukan banyak banyakan ilmu,tapi ngerti dan di resapi ilmu nya. 
Ummu Rumman kasih tips: Sederhana kan masalah. Puji dia, memuji orang. Pastikan dia ga sendirian, dia punya temen yg care sama dia. Angkat moril. Sampaikan kepada dia, bahwa masalah itu dialami banyak pihak, bukan cuma dia sendirian di dunia. Makanya kata Ummu Rumman,hal ini pasti di alami oleh semua orang yg di madu. Ummu Rumman ga mencari kambing hitam tapi mengajarkan Aisyah menjadi sosok yg wise dan bijaksana. Karena seringkali kita di curhatin sama orang tapi kita ga ngerti gimana cara bersikap, bagaimana cara menghadapi teman kita yg kena masalah.

Rosul bersabda; Amalan yg Alloh paling cintai adalah yg Istiqomah meskipun sedikit. Dan pahala itu tergantung tingkat kesulitan seorang hamba, jika kita menuntut ilmu semakin sulit/macet, maka semoga semakin berkah. Toh, perjuangan kita menuntut ilmu juga gaada apa apanya di banding ulama jaman dahulu yg hingga lintas benua demi menuntut ilmu..)


Aisyah menangis, dan sampai pagi menangis. Hingga tangisannya di dengar oleh Abu Bakar Assidiq ayahnya Aisyah, saat itu Abu Bakar sedang membaca Al Qur'an. Kemudian Abu Bakar bertanya kepada Ummu Rumman, "kenapa Aisyah menangis?" Dan Ummu Rumman menjawab, "Aisyah baru tahu masalah yg terjadi (tentang gosip fitnah Aisyah Zina)". Mendengar hal tsb, Abu Bakar menangis. Dan ini menyadarkan kita bagaimana orang tua sakit ketika kita sakit. Terpukul ketika kita terpukul. Meskipun kadang kita gasadar orangtua kita menangis. Dan seringnya kita durhaka lagi,durhaka lagi.  Ini Abu Bakar loh yg nangis,Ayah, jadi kalo udah anak, maka Ayah yg bak singa di luar,bisa jadi menangis saat anaknya tersakiti. Hingga Abu Bakar bersumpah; "Aku bersumpah, demi Alloh,Kamu akan balik lagi ke rumah Rosullulloh Muhammad Saw, ayah akan perjuangkan kamu, InsyaAlloh badai ini pasti berlalu, kamu akan rukun lagi dengan Muhammad saw". Sehingga ini penting nya birrul walidain. Bisa jadi orangtua kita mendoakan kita di sujud sujud mereka. Padahal Aisyah juga gatau kalo Ayahnya mendengar tangisan Aisyah.

Keesokan harinya,nabi Muhammad Saw mengundang Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid . Tentang kemungkinan akankah Muhammad akan menceraikan atau bersatu. Jadi Nabi Konsul dan ngajak diskusi. Ini pelajaran bagi kita semua, kalo sekelas Nabi Muhammad Saw bisa musyawarah dalam masalah rumah tangga,masa kita bisa memutuskan sendiri? Banyak dari kita yg udah married, bikin keputusan sendiri, ngandelin diri sendiri. Ini ga tepat. Libatkan pihak lain. Dan harus di tekankan, misal kita suka sama seseorang ketika mau married, jangan putuskan sendiri, tapi libatkan orangtua,ustadz, yg helikopter view dari atas,yg objektif. Karena kalo kita udah suka, maka kita ga bisa berpikir objektif. Jadi dari sinilah, kenapa Islam ga mendukung pacaran, karena kalo udah suka,udah pacaran maka ga bakal objektif. Cinta itu bikin buta. Jadi libatkan orang lain, yaitu salah satunya orangtua, karena orangtua lebih pengalaman dalam berumah tangga. 

Ketika Wahyu belum turun turun, maka Nabi libatkan orang lain. "Ali Imron: 159. Dan bermusyawarahlah dengan mereka". Dalam tafsir At Tohari, ini luar biasa karena Alloh memperintahkan Nabi untuk bermusyawarah,padahal Nabi Muhammad Saw adalah yg paling berilmu,paling bijak disuruh Musyawarah dengan para sahabat yg notabene tidak lebih pandai dari beliau,tidak lebih bertakwa dari beliau,tidak lebih alim, bijak,cerdas dari beliau. Tapi kenapa? Karena Rosullulloh Muhammad Saw mencari berkah dari Musyawarah. Kenapa? Karena jaman sekarang, ketika orang yg berkeluarga memutuskan keputusan sendiri dan tidak bermusyawarah maka ga berkah dan banyak kasus perceraian yg tidak di Konsul kan ke Ahli ilmu malah bercerai padahal sebenarnya bisa di selamatkan. Sedangkan mereka hanya merasa pintar, bisa memutuskan, dan gaada yg bisa diselamatkan ya akhirnya mereka putus bercerai dan divorce rumah tangga mereka.

Sedangkan disini Nabi Muhammad Saw mengajar kan kita bermusyawarah. Ini penting. Rosul bersabda; lihatlah bagaimana suami mu melihat mu,karena suami mu adalah surga dan neraka mu. Istri yg terbaik adalah yg paling menyenangkan dilihat suaminya. Dan Rosullulloh Saw paling ngerti urusan rumah tangga. Jadi jangan merasa bisa sendiri. Terutama calon pemimpin/suami karena biasanya suami itu ga mau cerita dan paling tertutup masalah rumah tangga. 
Karena pemimpin tidak mau terlihat gagal saat memimpin. Makanya kenapa kalo ada masalah rumah tangga dan masalahnya ada di suami maka susah banget untuk ngajak suami bicara ke ahli ilmu. Beda jika istri yg punya masalah maka masih mau share. Karena pemimpin ga mau dipermalukan. Tapi Nabi Muhammad Saw tidak. Ini pelajaran hidup. Jangan putuskan sendiri masalah keluarga. Kenapa, karena kalo divorce maka anak bisa hancur, cucu hancur, keluarga hancur, hubungan mertua hancur. Maka ga enak dan ga baik. Karena Semua nikmat akan ditanya oleh Alloh. Termasuk keluarga,, keluarga adalah kenikmatan dan nanti akan ditanya juga,kenapa anda putuskan bercerai tanpa berjuang atau bermusyawarah sebelumnya?? Kalo Nabi aja bisa disuruh Musyawarah, kenapa kita ga mau?? Padahal kita ga berilmu kecuali sedikit. 

Jangan main ego. Kita belum belajar fikih pernikahan,manajemen konflik dalam berkeluarga. 

Karena musyawarah itu berkah. Ali Imron : 159. Dan solusi bisa terjadi, dari semua pemikiran yg hadir dalam bermusyawarah. 

Dan yg menarik, yg dipanggil nabi Muhammad Saw untuk bermusyawarah adalah Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Bukan Umar bin Khattab atau Usman bin Affan. 
Dan Ali bin Thalib,Usamah bin Zaid itu anak muda. Mereka berdua pada saat itu dibawah 30 tahun. Bahkan Usamah bin Zaid disinyalir pada saat itu berusia 13 tahun. Apa penyebabnya??

Al hafidz Ibnu Hajar mengatakan;
  1. Ali dan Usamah tumbuh bersama Rosullulloh. Ali dan Usamah dididik oleh Beliau. Jadi udah mengerti Nabi. Ini masalah privasi. Dan salah satu yg paling tau pribadi Nabi adalah mereka berdua karena sudah pernah tinggal satu atap .
  2. Ini adalah masalah sensitif. anak muda itu otaknya masih fresh dan lebih berani ceplas-ceplos . Beda sama 'orang tua'. Apalagi kalo yang nanya Nabi, pasti yg generasi 'orang tua' lebih jaga perasaan,ga enak dan lebih banyak pertimbangan.sedangkan anak muda lebih ceplas-ceplos apa adanya dan Nabi membutuhkan jawaban yg apa adanya ceplas-ceplos aja pada saat itu. Dan ini pelajaran, kalo kita pengen curhat kita lihat dulu kepada siapa kita mau tanya/musyawarah. Jangan sama ke semua orang di share. Mudah share curhatan . Cari orang yg kita kira ngerti masalah kita. Bukan ke semua orang. Tapi lihat juga, mereka wise engga. Seperti Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid juga sangat matang, bijaksana. anak muda pengen nyari panggung,apa aja diikuti agar bisa eksis. Ada tren apa diikuti. Dan ini jangan. Makanya banyak anak muda yg ga dilibatkan dengan masalah keluarga, masalah hukum waris karena ya anak muda nya ga ngerti ilmu. Jadi cara eksis itu belajar, kajian, belajar agama,pelajari Al Qur'an dan Hadits nabi Muhammad Saw. Dan kenapa Ali bin Abi Thalib bisa eksis tanpa mencari eksistensi, padahal banyak sahabat nabi yg lain, dan Usamah juga anak muda yg dimintai saran oleh nabi? Karena matang. Mereka tumbuh di atmosfer Nabi dan tumbuh dgn Sunnah Nabi. Mereka yg dalam berpikir,( Barangsiapa yg berpegang teguh dengan Sunnah nabi, maka ucapan derap langkah dan sikapnya hikmah dan bijak.) Meskipun masih muda umur 21 tahun, tapi karena copy paste Nabi, yg diutus sudah kepala 4, maka ya cara berpikirnya matang seperti orang yg berkepala 4. Sikap attitude tingkah nabi yg sudah matang dalam semua sisi. Contoh beliau. Jangan hanya ikut tren yg ga penting, jika diikuti ya engga bijak bijak/matang matang. 
Kita ga bicara teori,tapi real. 


Dan Rosullulloh menceritakan masalah yg dialami ke Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid,kita lihat apa kata mereka. Dan mereka pun sudah tahu berita ini. Usamah bin Zaid mengarahkan masalah ini sesuai ilmu nya, bahwa Aisyah bersih. Aisyah roji' kata Usamah. Aisyah ga zina. Dan Usamah memastikan Aisyah sayang sekali dengan Nabi Muhammad Saw. Dan Usamah melanjutkan , Wahai Rasulullah,mereka adalah istri istri Engkau. Kata para Ulama,Usamah bilang kata ganti "mereka" untuk menjelaskan konsep bahwa seluruh istri mu, termasuk Aisyah bersih dan tidak berzina,, karena mereka adalah istri-istri Nabi. Dan istri sang Nabi ga mungkin punya rapot merah seperti itu karena suaminya Nabi. 
Yg buruk untuk yg buruk, laki laki yang buruk untuk wanita buruk, laki laki yang baik untuk wanita yang baik. Dan Usamah bin Zaid mengatakan itu padahal ayat An Nur : 26 belum turun,ayat ini turun di akhir cerita ini. Jadi Usamah ini bener bener keren pikiran nya.
Jadi Nabi pasti mencari/punya istri yg berkualitas. Kita yg bukan Nabi saja ingin punya pasangan yg berkualitas. Jadi ga mungkin istri Nabi buruk. 
Buya Hamka pernah bilang juga dari salah satu tafsir, bahwa Kata kata yg buruk akan keluar dari orang yang buruk (hati nya buruk)

Kata Ali bin Abi Thalib; "wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita selain Aisyah itu banyak." Banyak pihak yg kaget mendengar perkataan Ali bin Abi Thalib. Dan banyak ulama yg beranggapan bahwa Usamah bin Zaid lebih tepat. Tapi mari kita lihat apa kata Imam an Nawawi, Usamah bin Zaid melihat dari frame lebih ke Aisyah. Adapun Ali bin Abi Thalib melihat dari frame nabi Muhammad Saw. Ali bukan benci Aisyah,tapi disini Ali ga tega jika Nabi Muhammad Saw disakiti karena kasus ini. Karena Ali melihat orang yg dia cintai melebihi dirinya (Nabi Muhammad Saw) memiliki tekanan karena masalah ini, dan Ali memberi opsi bagaimana kalau keluar aja dari masalah ini dan lepas dari tekanan/disakiti oleh orang lain. Atau kata para Ulama, apa yg dikatakan Ali yg dimaksud, 'Ceraikan Aisyah, kemudian nanti masalah berangsur angsur tenang dan nanti akan jelas tersingkap, nanti Aisyah bersih dan dinikahi lagi. Maka clear masalah. ' bukan karena benci Aisyah tapi agar tenang dulu masalah. Kan baru talak 1. Yg ga bisa dinikahi kalo talak 3/talak roji'. Atau kata Ali, "atau antum,panggil saja seorang wanita,tanya tentang Aisyah,nanti akan dibenarkan antum"

Dan akhirnya nabi Muhammad Saw memanggil Bariroh,seorang wanita, dan nabi bertanya, "Wahai Bariroh,bagaimana menurut kamu tentang Aisyah ra"? Kata Bariroh, "ya Rosullulloh Saw, kalo pun Aisyah punya aib/kesalahan itu karena dia masih kecil (13 tahun) masih gadis kecil, seperti disuruh jagain adonan, ketiduran dan lalu adonannya dimakan kambing karena ketiduran,itu saja"

"Maksudnya kalo kita mau nyalahin Aisyah, itu karena waktu itu Aisyah keluar ga bilang bilang " (seperti dijelaskan part 1)
Lalu di goreng sama oknum, jadi begini deh. Kalo mau salahin Aisyah salahin pas dia keluar ga bilang bilang itu (part 1) ,selebihnya gaada salah, Aisyah tanpa cacat kok.

Maka bener kata Ali bin Abi Thalib, "coba antum tanya wanita, pasti dia akan benarkan apa kata antum" (pasti akan mengatakan Aisyah ga bersalah) artinya Ali bin Abi Thalib kata para ulama, hanya memberi opsi ke Nabi, ("antum, mau menyelesaikan masalah ini dengan cepat,atau nunggu?, Saya yakin Aisyah bersih. Tapi kalo mau cepat nyelesai in masalah, ceraikan Aisyah,tekanan menurun dan nanti dinikahi lagi")

Jadi ga bener kalo Ali bin Abi Thalib benci Aisyah, atau sebaliknya Aisyah sakit hati dengan Ali. Mereka adalah anak muda. Dan Aisyah ga baper saat Ali nyuruh ceraikan Aisyah. Bahkan Aisyah dibeberapa kesempatan memuji Ali bin Abi Thalib. Ketika beliau ditanya, kepada siapa kami berbaiat? Aisyah menjawab, "pegang tuh Ali bin Abi Thalib" atau dalam riwayat lain, hadist riwayat Muslim , Aisyah ditanya, siapa yg kita baiat setelah Usman?, Aisyah menjawab,Ali bin Abi Thalib. Lalu ketika ada sahabat yg nanya tentang bagaimana mengusap khuff,mengusap sepatu boots/kaos kaki yg menutup sampai atas mata kaki ke Aisyah, kata Aisyah, Alaika bi ibni Abi Thalib,kamu dalam masalah ini cek ke Ali bin Abi Thalib karena dia sering safar bersama Nabi. 

Jadi ga baperan. Ali husnuzon sama Aisyah dibuktikan kalo clear masalah maka nikah lah lagi dengan Aisyah, begitu pun Aisyah juga husnuzon dengan Ali, saat Ali mengatakan wanita selain Aisyah itu banyak. Karena disini mereka ga saling baper. Coba kalo baper bisa repot masalahnya. Lihatlah mereka anak muda, selalu positif thinking, husnuzon. 

Seperti halnya dikatakan Buya Hamka, negatif thinking itu lahir dari orang yg punya hati yg buruk. Jadi khobisat (an nur:26) tafsirnya bukan hanya wanita tapi juga perkataan buruk juga lahir dari orang yg hatinya buruk, kata kata yg buruk,pola pikir yang buruk hanya dimiliki oleh Al khobisin (orang orang yg buruk). 

Jadi dalam berumahtangga harus mengedepankan husnuzon. Ketika berhadapan dengan mertua,pasangan. Ketika ada isu entah di kantor, maka husnuzon dulu. Inget,disini isu nya se kota Madinah, tapi Usamah bin Zaid husnuzon, Bariroh Husnuzon. Jadi belum tentu yg kita pikir sudah A1 fakta karena semua orang berpikir demikian, tapi bisa jadi salah maka kedepankan husnuzon. 

Dan Rosullulloh saw tidak menceraikan Aisyah. Dan tetap mempertahankan Aisyah Ra. Dan beliau menyelesaikan diskusi musyawarah bersama Usamah bin Zaid dan Ali bin Abi Thalib.

Kemudian Rosullulloh berbicara di hadapan sahabat sahabatnya. Beliau berdiri diatas mimbar. Dan semua sahabat menunggu apa yg akan disampaikan Nabi Muhammad Saw,dan .............. akan di lanjut part selanjutnya :)

Sesi Q:A
  1. Ada yg bertanya bagaimana jika ada perempuan Mawar menjodohkan temannya Melati ke seorang Pria. Lalu ternyata ada konflik menjelang menikah antara Mawar dan Pria yg menikah. Hingga menikah lah Melati dan Pria tapi akhirnya mereka berdua memusuhi yg nyomblangin (mawar) karena fitnah

 jawaban ustadz: Dalam dunia perjodohan/disini pencomblangan ini ada ilmu,kaidah dan fikh nya sendiri. Ga boleh asal-asalan. Memang sepakat, nyomblangin dan akhirnya berhasil itu pahalanya gede banget. Tapi semua investasi besar itu High Risk (resiko nya tinggi). Kalo mis/kesalahan yg nyomblangin ikut bertanggung jawab di akhirat. Dan banyak kasus orang yg nyomblangin itu ga pake kaidah,SOP nya maka akhirnya banyak yg mis / kesalahan
Bagi yg nyomblangin kalo emang sudah pake kaidah/ilmu tapi di fitnah maka itu cobaan ujian keihklasan. Karena setiap interaksi itu cobaan/ujian. Sabar atau engga. Dan Alloh maha melihat duduk permasalahan. Kalo kita ngarepin keihklasan maka ketika di fitnah ya sabar. Tapi kalo ternyata nyomblangin ga pake kaidah maka perbanyak istighfar dan bertaubat kepada Alloh.
Karena menikah itu bukan cuma pas hari H, inti pernikahan adalah hari hari setelah pernikahan. Dan apabila kita nyomblangin tapi divorce,maka kena dosa nya kita, kalo punya anak dan anak nya menjadi terbengkalai kita juga ikut dosa karena kita sebab masalah prahara itu terjadi. Maka harus dengan fikh ga boleh sembarangan. Harus hati hati dalam dunia perjodohan. Ga boleh asal husnuzon ketika di dunia perjodohan.

  1. Bagaimana jika orangtua bertengkar di hadapan anak,apa yg harus anak itu lakukan?
Jawaban ustadz: Fa'atikula Haqqin Haqqoh, Berikan hak nya masing masing. Jangan memihak. Jangan membela salah satu dan akhirnya menzolimi yg lain. Karena bagaimanapun mereka ada lah orangtua kita. Kita ga boleh benci mereka . Doakan mereka supaya mendapat hidayah,banyak bersujud.  Dan minta pertolongan Alloh, dalam sabar solat. Dan ikuti konsep Ummu Rumman (sederhana kan masalah, menyatukan bukan menggoreng masalah)


Baik, itu saja hari ini.. Alhamdulillah.. Mohon maaf.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Thursday, October 11, 2018

Part 5

Assalamualaikum,

Bismillah, I'm back.. Nulis lagi lanjutan Hadistul Ifki..

Ini audionya;



Kembali ke hadist  ;

Ketika aku sudah kembali ke rumahku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku lalu memberi salam dan berkata: “Bagaimana keadaanmu?” Aku jawab: “izinkan aku untuk pulang ke rumah kedua orangtuaku”. ‘Aisyah berkata: “Saat itu aku ingin mencari kepastian berita dari pihak kedua orang tuaku”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku izin dan akhirnya aku menemui kedua orangtuaku lalu aku tanyakan kepada ibuku: “Apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang?” Ibuku menjawab: “Wahai ananda, anggaplah ringankan urusan yang sedang menimpa dirimu ini. Sungguh demi Allah, sangat jarang seorang wanita yang tinggal bersama seorang suami yang dia mencintainya padahal ia mempunyai isteri lain, melainkan isteri-isteri lainnya akan menyebarluaskan aibnya”. Aku katakan: “Subhanallah, sungguh orang-orang sudah memperbincangkan masalah ini?” Aisyah berkata: “Maka aku melewati malam itu hingga pagi dengan air mata tak bisa lagi menetes karena habis dan aku tidak bisa tidur karenanya hingga ketika pagi hari.

.....................

  1. Kaifatikum? Apa kabar nya Rosullulloh masih sama dengan yang lalu ke Aisyah, dari jarak jauh dan tidak ada kehangatan seperti biasanya Rosullulloh. Tapi disini Aisyah sudah mengetahui tentang masalah yang terjadi
  2. Kemudian di saat seperti ini,Aisyah merasa ga kondusif jika bertanya atau kroscek masalah ini ke Rosullulloh. Sehingga Aisyah minta izin untuk kroscek masalah ini ke orangtua Aisyah yaitu Abu Bakar as Siddiq dan Ummu Rumman. Aisyah membaca situasi dan merasa bahwa dengan sikap Rasulullah/suami nya berbeda maka Aisyah ga mau bertanya ke Rosullulloh karena jika dipaksakan bertanya khawatir menjadi ketegangan atau adu argumen. Disinilah sebagai istri, kita harus melihat timing saat harus berbicara. Baiknya diem atau nunggu dulu di saat yang kondusif. Karena yang ada dipikiran Aisyah, Rosullulloh mungkin ga dukung Aisyah dan percaya dengan gosip di luar. ( Tapi sebenarnya Rosullulloh ada alasan tersendiri yang akan dijelaskan di kemudian hari kenapa seperti mendukung) . Sikap Aisyah ini dipuji oleh semua Ulama besar karena disini Aisyah mencari sosok yang wise/bijaksana dalam mencari penyelesaian masalah yaitu ke rumah orang tua nya, Abu Bakar as Siddiq. Bukan curhat ke orang yang ga jelas/yg tidak berilmu/bijaksana. Dan disini Aisyah minta izin ke Rosullulloh saat mau ke rumah orangtuanya. Ini adalah pelajaran dan adab. Harus minta izin. Bukan asal pergi atau kabur ketika ada masalah atau tidak gaada dukungan.
  3. Kemudian setelah diizinkan dan sampai di rumah orangtuanya, Aisyah bertanya kepada Ummu Rumman ibunya Aisyah, "wahai ibu, apa yg dikatakan orang diluar sana?" . Disini Aisyah ga langsung curhat atau nangis tapi hanya bertanya. Kata Ummu Rumman, "ini masalah sederhana kok, bukan masalah besar, Wallohi, tidak ada seorang wanita yang cantik jelita dan memiliki suami yg suaminya juga cintaa banget sama wanita tersebut dan diwaktu yang sama dia nya punya madu,maka pastilah ada yang membicarakan wanita tersebut. 
....
Para ulama sepakat bahwa Ummu Rumman sangat cerdas. Karena Ummu Rumman menyederhanakan masalah. Ini bukan masalah besar kok. Dan disini Ummu Rumman ga menyalahkan siapa pun. Ga menyalahkan menantu. Ga memancing. Karena pada jaman sekarang banyak sekali ketika anaknya ada masalah dengan menantunya maka menantu nya yang langsung disalahkan. Disini juga Ummu Rumman ga panikan. Ga baperan. Karena bagaimanapun Saat diluar sana banyak orang yang membicarakan anaknya berzina hati mana yang ga sedih? Tapi disini Ummu Rumman ga panik. Ummu Rumman memang dikenal sebagai wanita yang matang dalam berpikir. Karena Aisyah yang berumur 1-6 tahun di didik oleh Ummu Rumman yang sangat matang dan Abu Bakar as Siddiq maka jadilah Aisyah seorang wanita yang matang juga. Ga semata mata langsung gift dari Alloh tapi juga ada didikan orangtua yang hebat. Dan umur 6-13 tahun dididik oleh Rosullulloh. Maka ya Aisyah ini ya mantap banget. Jadi banget kematangan/kecerdasan/kebijaksanaannya. Memang Aisyah juga pernah melakukan kesalahan seperti saat cemburu pernah memecahkan piring, tapi saat Ujian sebenarnya datang, maka Aisyah bener bener bagus sekali dalam bersikap. 
Lihat Ummu Rumman, dia memuji dulu Aisyah. Kamu tuh cantik dan punya suami yg juga mencintai kamu. Disini Ummu Rumman memuji dan angkat dulu moril Aisyah yg down. Jadi dari sini, ga semua memuji itu salah. Memuji itu bagus saat kita melihat temen kita down. Ga semua memuji itu seperti melemparkan wajah dengan pasir. Walaupun hadist ini juga sahih dan ada rincian masalah tersebut. Tapi disini kita juga dianjurkan memuji teman kita yang down/futur agar tidak down dan semangat lagi dalam berhijrah.

Dan disini Ummu Rumman menjelaskan bahwa "Kamu tuh dicintai oleh suami kamu" . Karena orang seperti Aisyah ini butuh dukungan. Ummu Rumman paham tentang psikologi Aisyah. Dan ga memprovokasi menantu , menjelekkan menantu atau menggoreng masalah. Tapi lebih ke memberi dukungan moril agar dikuatkan hubungannya bukan biar renggang.

"Setiap wanita,cantik,menikah, dan punya madu, pasti ada yang ga suka dengan wanita cantik itu." Disini maksudnya Ummu Rumman ngasih tau kalo kamu tuh bagian dari komunitas tersebut. Hal tersebut pasti wajar. 
Dan memberi contoh kasus lain bahwa kamu tuh ga sendiri. 

Ummu Rumman bilang, "Setiap wanita,cantik,menikah, dan punya madu, pasti ada yang ga suka dengan wanita cantik itu". Disini Ummu Rumman ga ngasih tau sebuah nama orang yang cemburu tersebut. (Tapi menurut para Ulama, orang yang ga suka yang dimaksud adalah Hamnah bin Jahsy, saudari kandung dari Zainab binti Jahsy. Zainab binti Jahsy adalah istri Rosullulloh dan kompetitor Aisyah nomor 1 dalam hal ketakwaan. Disini kata Aisyah, aku tidak pernah melihat ada wanita yang lebih bertakwa,lebih dermawan dari Zainab binti Jahsy. Jika Aisyah pernah diabadikan dalam ayat Alquran begitu pun Zainab binti Jahsy juga saat Rosullulloh menikahi Zainab ada ayat turun dalam Alquran membahas Zainab. Sehingga Hamnah binti Jahsy ingin menjadikan Zainab adalah istri Rosullulloh yg terbaik dengan menghancurkan Aisyah)

Hamnah ini Muhajiroh. Muhajiroh atau orang yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah itu ga diragukan lagi keimanannya. Hamnah bukan orang munafik dan fasik. Dan Hamnah juga ikut perang dalam mengobati para mujahid yg sakit, memberi minum para Mujahid. Dan Hamna ini tabahnya luar biasa. Karena saat Rosullulloh mengatakan, saudaramu Abdullah bin Jahsy meninggal di perang Uhud,maka Hamnah mengucapkan Innalilahi wa innailaihi rojiun dengan tabah, dan paman mu Hamzah juga meninggal dan tetap tabah Innalilahi wa innailaihi rojiun. Hamnah masih sepupu Rosullulloh. Jadi disini Hamnah walaupun Muhajirin,sepupu Rosullulloh pun juga bisa cemburu. Bagaimana kita atau teman kita. Jalan hijrah memang ga mudah dan harus berilmu dan lapang dadanya. Hamnah ini ahli ibadah pun bisa cemburu/down/khilaf dan ingin menjatuhkan Aisyah. Ini adalah sunnatulloh yang dialami semua nya.

Ada hadist;
Suatu hari Rosululloh melihat ada tali yang terbentang di masjid dan Rosullulloh bertanya punya siapa ini? Dan dalam hadist imam Bukhari,itu punya Zainab binti Jahsy. Kata Imam Ahmad, itu punya Hamnah binti Jahsy. Atau kata para ulama itu milik keduanya. Jadi disini Hamnah tetap ingin sholat di masjid meskipun harus memegang tali. Maka kata Rosullulloh, hendaknya kalian solat dalam keadaan fresh. Jika tidak maka istirahat dulu. Jadi hadist ini untuk para sahabat pada umumnya dan Hamnah pada khususnya untuk solat di masjid pada saat fresh dan jangan dipaksakan ke masjid kalo sedang sakit. 

Jadi Hamnah ini ahli ibadah saking semangatnya dan sampai pegang tali agar ga jatuh pas solat di masjid. Tapi bisa jatuh saat cemburu. Padahal yg istrinya Nabi adalah saudarinya Zainab binti Jahsy. Tapi cemburu juga dan ingin menyerang Aisyah. Kemudian saat perang Uhud dikatakan tadi saudaranya meninggal ,pamannya meninggal bisa tegar. Tapi pas dikatakan suaminya Hamnah meninggal, Hamnah langsung down karena Suaminya adalah belahan jiwa Hamnah.

Disini pelajaran, bahwa Fitnah, Dusta, Gosip itu aktor intelektual nya/dalang nya itu 1 , 2 orang. Tapi dia bisa membuat orang orang Soleh yang mungkin sedang mis,sedang down dan terbakar cemburu untuk menjadi korban provokasi. Disini aktor intelektual nya Abdullah Ibnu Salul. Tapi Hamnah bisa kena karena kecintaannya kepada saudarinya Zainab binti Jahsy sehingga menjatuhkan Aisyah / ikut gosip juga.
..........
Disini Ummu Rumman tidak menyebut nama yang cemburu saat bilang "Setiap wanita,cantik,menikah, dan punya madu, pasti ada yang ga suka dengan wanita cantik itu" disini Ummu Rumman mengatakan substansi masalah bukan Nama orang. Bukan terfokus ke person tapi akar masalahnya yg ia jelaskan ke Aisyah.

Dan Aisyah hanya mengatakan , "Subhanallah, ternyata benar apa yang dikatakan oleh orang orang/ternyata isu itu benar dan sudah beredar"

"Subhanallah" adalah kata pertama saat Aisyah mendengar gosip tersebut. Kenapa ga Allohuakbar? Karena , surat Al Hijr ayat 97-98, "Kami tahu bagaimana perasaan anda saat mendengar berita berita keji mereka, maka bertasbihlah memuji nama Robb mu."
Subhanallah. Subhanallah. Aisyah ga kepo siapa Namanya (yang memfitnah)? Tapi memuji Alloh. Mengembalikan pada Alloh.

Kata para ulama;
"Nyebut nama manusia itu penyakit. Adapun mengingat Alloh  adalah obat dari  segala masalah" . 
Dan sering kali saat kita mendengar masalah kita menyebut nama manusia. Melabrak manusia. Padahal itu belum tentu menyelesaikan masalah. Yg harus kita lakukan adalah mengucapkan Subhanallah. 

Dan Aisyah mengatakan, "dan aku menghabiskan kesendirian ku pada malam itu dengan menangis semalaman sampai pagi. (Instrospeksi diri) "

To be continued.......

Q&A
Q: Bagaimana kalo Hamnah yg rajin ibadah saja bisa tergelincir ke fitnah/bisa gosip/nyerang Aisyah, bagaimana dengan kita yang ibadah nya ga terlalu rajin agar bisa ga terfitnah?
A: Jawabannya Ihfazillah yahfadzka,jagalah hak Alloh maka Alloh akan menjagamu. Disini bukan cuma Hak fisik ibadah tapi juga hak dalam hati. Hamnah ini ibadah bagus tapi hatinya ada rasa cemburu sehingga terfitnah. Hendaknya kita juga harus menjaga hati kita. Amalan ibadah dan amalan hati. Bersihkan hati. Seperti Abu Bakar as Siddiq kenapa Para ulama sepakat dia adalah orang nomor 1 setelah generasi Rosullulloh? Karena Abu bakar as Siddiq dalam hatinya menginginkan semua orang hatinya baik. Bagaimana agar semua orang baik. Begitu cara berpikir Abu bakar as Siddiq. Mungkin pada jaman itu banyak yg lebih ahli ibadah lagi dari abu bakar,tapi Abu Bakar selalu pengen orang lain/umat muslim baik,selalu ingin memberi yg terbaik. Lalu ingat hadist hendaknya bicara baik atau diam. Jangan ikut komentar jelek,serang sana serang sini. Jangan. Dunia ilmu adalah dunia Rahmat. Kita harus husnuzon. Jangan saling cela atau serang. Selalu husnuzon.



Alhamdulillah. Itu saja catatan kali ini. Semoga bermanfaat. Dan semoga bisa Istiqomah nulis lagi :)

Wassalamu'alaikum..

Wednesday, September 26, 2018

Hidayah dari sebuah "AKREDITASI"

Assalamualaikum semua..

Kali ini pengen nulis tentang sesuatu yang menurut aku "MINDBLOWING" yang sedang ku alami.
Jadi saat ini aku Alhamdulillah bekerja di salah satu pelayanan kesehatan publik di daerah deket rumah.
Disini, di tempat kerja ku, sedang Nge-HITS banget yang namanya Akreditasi, sebuah Salah satu rangkaian yang harus dan wajib di lakukan, dasarnya adalah Permenkes 75 (karena Puskesmas) dan peraturan peraturan yang lain menjadi satu kesatuan "Instrumen Akreditasi", dan semua itu harus di penuhi sebagai Syarat Ter Akreditasi, kita dinilai oleh Surveilans Kemenkes dan Goal nya hasil akhirnya penilaian tersebut lah yang menentukan Puskesmas kita ini Apakah Tingkat Paripurna, Utama,Madya,Dasar, yang intinya Kita sudah di akui oleh lembaga yang berwenang (dalam hal ini Kemenkes) untuk memberikan Pelayanan.

Udah deh, maaf kalo penjelasan masalah Akreditasi ku yang di atas salah wkwkwk, intinya yang aku mau tulis disini adalah,

Jadi kan sebelum nya saya sebagai orang di Pemeliharaan Puskesmas berusaha melengkapi dokumen dan melakukan serangkaian yang diminta "Instrumen Akreditasi" yang berhubungan dengan pekerjaan ku. Awalnya kita melakukan sesuai pemahaman kita.
Lalu kita di nilai dulu secara internal, dalam hal ini bisa dinilai oleh Suku dinas di atas kita, kita di Survei dan diberi rekomendasi yang harus kita lakukan, ini di survei oleh Suku Dinas yang lebih expert lagi dan sudah di latih sedemikian rupa, sehingga dari sini ada gap, antara "Pemahaman ku dan Pemahaman si yang Survei internal kita".
Kemudian lagi, di tingkat selanjutnya, ketika kita bener2 perang, maksudnya bener2 Akreditasi oleh Surveilans Kemenkes, bisa jadi, rekomendasi dari yang mensurvei kita berbeda dengan yang mensurvei kita sebelumnya, padahal bisa jadi sama sama sudah di latih sedemikian rupa juga. Atau bahkan kadang, berbeda orang beda Pemahaman, bisa jadi Kami Puskesmas A menggunakan konsep dari Pelatihan dari Suku Dinas di survei dengan Ibu A banyak yg lolos dan dapat nilai A, lalu Puskesmas B dengan konsep yang sama dan dinilai oleh ibu B bisa salah lagi atau beda lagi nilai nya.

Kadang ada sebuah ungkapan, "Akreditasi tergantung Surveilans nya, Surveilans nya enak atau engga? Kalo dapat yg sepemikiran bisa jadi nilai nya banyak yang bagus"

Bahkan saya pribadi yang namanya pelatihan instrumen akreditasi ini entah sudah berapa kali saking sering nya, tapi bisa jadi ketika saya mendampingi 3 Puskesmas Kelurahan dengan surveilans yang berbeda meskipun konsep kita sama bisa jadi juga beda beda nilai nya karena beda beda pemahamannya si Surveilans (ini baru yang bagian saya doang sih,yang Pemeliharaan, engga tau kalo di bagian lain seperti UKM dan UKP, jadi mohon maaf atas keterbatasan saya)

Lalu, jeng jeng jeng, Apa kaitannya hal tersebut diatas dengan Praktek secara komprehensif saya dalam menjalankan agama??????

Ini yang terjadi jaman sekarang, ketika umat Islam terbelah, menjadi beberapa Pemahaman/ kasar nya aliran. Karena ya itu tadi, bisa jadi kita sama sama punya Sumber yang sama yaitu "Al Qur'an dan Hadits/Sunnah Nabi" , tapi semua orang memiliki pemahaman yang berbeda beda dalam menafsirkan ilmu dari Al Qur'an dan Sunnah/Hadist nabi tersebut, makin ada generasi,makin memiliki pemahaman lagi, hingga terus menerus terus menerus dan saya di "Jaman Now" ini entah sudah melewati berapa jaman dan kita lihat sekarang makin banyak perbedaan.

Lalu balik lagi.....
Sama seperti Akreditasi, bisa jadi akhirnya kita memilih belajar dengan Puskesmas yang Paripurna, yang paling banyak benar nya karena sudah terbukti lolos dan dapat nilai Sempurna. Bisa jadi mereka juga yang sudah Paripurna memang Di bimbing langsung oleh "Si pembuat Instrumen Akreditasi dalam hal ini contohnya di bimbing oleh Penyusun Permenkes 75" sehingga makin mantap lah mereka karena ibaratnya Pemahamannya langsung dibimbing oleh yang Pakar asli nya.

Begitu juga dengan Islam dan Adab2 nya (kesatuan antara Ilmu dan Praktek yang dilakukan secara keseluruhan dan komprehensif ini) , kita pun harus contoh dong, orang orang yang di jamin Masuk Surga yaitu Rosullulloh dan Para Sahabat dan ilmu ilmu itu sesuai dengan Pemahaman Rosullulloh, Para Sahabat dan orang orang Soleh Jaman dahulu yang memang sudah di jamin Alloh masuk surga. Jika kita ngikutin sesuai Pemahaman mereka orang orang yang dijamin masuk surga tersebut, bukankah insyaAlloh kita juga mendapat nilai Bagus dan Paripurna disisi Alloh?? 

Karena gimana ya, sekarang itu Alhamdulillah mudah banget mendapatkan ilmu di sosial media, tapi sering nya, mereka mengatakan ilmu ilmu tersebut sesuai pemahaman mereka aja, sesuai hawa nafsu, makanya banyak yang beda beda. Bahkan ada ustad yang mohon maaf bisa jadi beliau asal ambil ilmu dari sana dari sini nanti sudah berani mengatakan di hadapan publik dan akhirnya ternyata Qodarulloh salah ilmu nya.

Kalo Akreditasi aja kita ga boleh asal ambil ilmu, lebih baik Konsul ke pakar nya, apalagi ini ilmu dunia akhirat atau agama kita?? Ya ga sih? :D aduh mohon maaf

Intinya aku rasa,aku pikir. Menjalankan kehidupan sesuai Alquran , As Sunnah, dan sesuai Pemahaman Para Salafussolih itu lebih aman. Ga kurang ga lebih. 

Begitulah yang menjadi ke "MIND-BLOWING" an aku, hanya dari sebuah Akreditasi dan bismillah semoga bisa dimudahkan Alloh belajar lagi belajar lagi menjadi lebih baik. Aamiin..

Mohon maaf, Wallohu A'lam.. Alhamdulillah..


Wassalamu'alaikum..

Tuesday, September 25, 2018

Part 4

Assalamualaikum,

Bismillah..
Balik lagi dengan tulisan kisah kelanjutan Hadisatul Ifki..

Ini link audio nya;
https://m.soundcloud.com/the-rabbaanians/ust-muhammad-nuzul-dzikri-haaditsatul-ifki-saat-ibunda-kita-difitnah-part-04

Ini Hadist kelanjutannya;
Hingga ketika aku berangsur pulih dari sakit aku keluar bersama Ummu Misthoh menuju tempat kami biasa membuang hajat, kami tidak keluar kesana kecuali di malam hari, itu terjadi sebelum kami mengambil tabir dekat dengan rumah kami, kebiasaan kami saat itu yaitu kebiasaan orang-orang Arab dahulu (arab tradisional) bila berada diluar rumah atau di lapangan terbuka. Maka kami, aku dan Ummu Misthoh binti Abi Ruhum berjalan lalu dia tergelincir karena kainnya seraya dia mengumpat: “Celakalah Misthoh”. Aku katakan: “Sungguh buruk apa yang kamu ucapkan tadi. Apakah kamu mencela seorang yang pernah ikut perang Badar?” Dia berkata: “Wahai baginda putri, apakah Baginda belum mendenar apa yang mereka perbincangkan?” Lalu dia mengebarkan kepadaku tentang berita bohong (tuduhan keji). Kejadian ini semakin menambah sakitku diatas sakit yang sudah aku rasakan.
**********

Dalam setiap kajian, sesi tanya jawab itu penting,dan merupakan satu kesatuan dari kajian itu sendiri. Bahkan Hadist yg di riwayat kan Umar bin Khattab yaitu Tanya jawab/ dialog antara Malaikat terbaik Jibril dan Rosullulloh, yaitu hadist tentang Iman, Islam, Ihsan, hari kiamat dan tanda tandanya. Dan karena tanya jawab tersebut banyak orang dapat hidayah, banyak orang tahu tentang Islam,iman,Ihsan,dan tanda tanda kiamat (hadist arbain ke 2)

Bisa jadi kita ga punya pertanyaan saat kajian,tapi bisa jadi pertanyaan orang lain atau temen kita yang bisa mengubah hidup kita, pertanyaan tersebut yang kita cari selama ini

Ada pengalaman dari ustad Nuzul,yaitu ustad dipanggil manajemen kampus pada saat pelajaran berlangsung namun setelah selesai dipanggil manajemen masih ada 10 menit pelajaran tapi ustad akhirnya pergi ke perpustakaan karena merasa tinggal 10 menit doang. Kemudian ternyata ketemu dengan Syeikh / Gurunya ustad, "kamu kemana tadi ya Muhammad?? (Ust Nuzul di panggil nya Muhammad waktu kuliah)
Dan kata ustad, saya tadi di panggil pihak manajemen kampus dan cuma sisa 10 menit jadi saya putuskan untuk ke perpus saja, apakah tadi pelajaran sudah selesai di 10 menit itu ya Syeikh?
Syeikh nya bilang, " tadi aku 5 menit sebelum selesai pelajaran sudah selesai materi, tapi tahukah kamu, bisa jadi 5 menit terakhir ini yang menentukan hidup kamu, bisa jadi 5 menit terakhir ini yg menentukan surga dan neraka mu"
Ibrohnya, kita gatau kapan ilmu itu sangat berkah dan bermanfaat. Karena kalo hanya konten ilmu, semua ilmu banyak, di google pun banyak. Tapi yg kita perlukan adalah keberkahan. Menuntut ilmu yg terbaik adalah datang ke kajian. Wa man salaka thoriqon yaltamisu fihi Ilman Sahalallahu lahu thoriqon Ilal Jannah.

Jika kepada orang lain, kita harus memberikan uzur, positif thinking dan ga boleh berburuk sangka (jika teman kita ga bisa ikut full karena mungkin rumahnya jauh,lapar, dan ada uzur ga bisa ikut kajian ). Namun kalo bisa untuk diri sendiri, kita harus idealis dan sebisa mungkin usahakan ikut full kajian dan tanya jawab.
********

Mengingat part 3 kemarin, Sikap nabi berbeda, namun tidak ada su'uzon dalam diri Aisyah.

Lanjut, "Sampai kepada fisik ku sudah mulai kuat, aku pergi keluar malam hari bersama Ummu Misthoh ( ibu nya Misthoh). Kami berniat untuk buang air. Dan pada saat itu jaman dulu, kalo buang air wanita malam hari dan itu pergi ke tempat jauh. Jauh dari pemukiman"

Hadist ini menerangkan bahwa Bolehnya wanita pergi keluar rumah jika ada Hajat dan Keperluan, selagi itu aman. Meskipun saat itu sangat gelap, tapi aman. Jadi di perbolehkan kalo jaman sekarang boleh keluar malam mungkin untuk kajian selagi itu safety. Jadi dalilnya Aisyah dan Ummu Misthoh

Aisyah cerdas, karena waktu itu (kejadian buang hajat habis perang,lalu nyari kalung yg hilang,ketinggalan rombongan) malam malam dan akhirnya ditemukan Sofyan, maka disini dikemudian Aisyah mengajak Ummu Misthoh pergi keluar karena tidak mau kesalahan terulang kembali. Sehingga muslim yang cerdas adalah yang tidak jatuh ke lubang yang sama dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Sehingga perlunya belajar belajar dan belajar.

Siapakah Ummu Misthoh? Sepupu nya Abu Bakar Ash Shidiq. Sehingga Ummu Misthoh adalah Tante nya Aisyah. Ummu Misthoh masih keluarga besar Aisyah.

Aisyah melanjutkan, ketika kami sudah selesai melaksanakan hajat kami, Lalu Ummu Misthoh tergelincir/jatuh dan keceplosan mengatakan "Celakalah Misthoh"
Aisyah pun kaget, "Apa yang kamu katakan Ummu Misthoh, apakah kamu sadar yang kamu katakan adalah ga bagus, dan apakah kamu mencela Seseorang yang ikut Perang Badar?"
Jadi Ummu Misthoh ini mengatakan hal demikian karena ga sengaja, spontanitas, dan juga memang sudah takdir Alloh.

Dari sini kita tarik pelajaran, kita ga perlu kepo, karena Alloh yang tahu yg terbaik untuk kita. Jika itu yang terbaik,Alloh sendiri yang akan mengungkapkan hal itu kepada kita. Akan kebuka sendiri. Detik itu Alloh menginginkan Aisyah tahu. Dan timing malam tersebut lah waktu terbaik Aisyah tahu. Alloh lah Maha pengatur terbaik. Al Baqarah:216 ,, Alloh yang maha tahu, dan kita ga tahu. Salah satu tanda Alloh menginginkan kebaikan untuk kita, kita dihindarkan Alloh dari sesuatu yg ga bermanfaat (ga perlu kepo kepo)

Namun detik tersebut Aisyah masih tidak tahu yang terjadi, yang dia tahu hanya seorang Ibu (Ummu Misthoh) sedang mencela, berbicara hal ga baik terhadap anaknya (Misthoh). Dan itu ga bagus sebagai orang muslim. Karena Nabi bukanlah orang yang suka mencela,melaknat,berkata hal buruk. Sehingga hal tersebut yang di pegang oleh para sahabat dan isteri istri nabi. Untuk tidak mencela dan berkata buruk terhadap orang lain.

Kita harus membangun adab. Sebagaimana Aisyah, tidak mencela tidak mencaci maki. Dan harus berakhlak mulia. Rosullulloh saja tidak pernah mencaci maki Abu Jahl, Abu Lahab. Dan kita harus ilmiah dengan data. Dan dibalut dengan akhlak yang baik.

Aisyah membela Misthoh. "Apakah kamu mencela seorang yang ikut pernah Badar?"
 Aisyah tahu hadist nabi,"Barang siapa yang membela kehormatan seorang muslim sedangkan saudaranya (yang di jelek kan) ga ada di tempat, Alloh pastikan Alloh akan membebaskan dirinya dari api Neraka."
Wajib bagi Alloh untuk menghindarkan dia dari siksa api neraka (jika kita membela kehormatan seorang muslim)

Sampai celaan itu datang dari ibu ke anaknya (Ummu Misthoh ke Misthoh) tapi Aisyah tetap membela Misthoh. Bahkan kata Aisyah, "Misthoh itu Muhajirin, diantara yang pertama kali masuk Islam, apakah kamu mencela seorang sahabat Rosullulloh?"Lanjut kata Aisyah," Alloh memberi garansi kepada orang yang ikut perang badar, Misthoh ini ikut perang badar, kata Alloh , dan berbuat lah sesuka kalian karena sesungguhnya Alloh sudah mengampuni kalian (kepada orang yang ikut perang badar)"

Disini Aisyah membela Misthoh dan menyebutkan keutamaan keutamaan Misthoh (dia Muhajirin,sahabat Rosullulloh,dan ikut perang badar)

Begitulah seharusnya sikap kita ketika ada saudara kita di jelek jelekan/di cela. Kita harus membela dan menyebut kebaikan dan keutamaannya. 

Kata Ummu Misthoh, "kamu ga tahu ya apa yang sudah mereka katakan tentang kamu?"
Aisyah,"memang nya apa?"
Ummu Misthoh, " ya alloh,kamu bener bener ga ngerti apa apa ya?", Dan akhirnya Ummu Misthoh menceritakan berita dusta/fitnah yang terjadi. Dalam riwayat lain, "anak ku Misthoh dengan Fulan,Fulan,Fulan (Ummu Misthoh hanya menyebut nama anaknya dan Fulan Fulan) itu berkumpul di rumahnya Abdullah bin salul, mereka menceritakan kamu dan Sofyan bin Muatthol.

Dan akhirnya Aisyah makin sakit....

"Demi Alloh aku tidak mencela anak ku bukan karena aku benci dengan anak ku, tapi karena engkau Aisyah, dia telah mencela mu dan sudah keterlaluan, aku membela mu Aisyah" Ummu Misthoh

Disini Ummu Misthoh bener2 cinta Aisyah karena Alloh. Seperti hal nya, kata Umar di hadapan Nabi, "ya Rosul, aku lebih mencintai Engkau dibanding keluarga ku,dan harta harta ku kecuali kepada diri ku sendiri" dan Rosullulloh pun berkata "Tidak, sampai kamu lebih mencintai aku di banding dirimu sendiri"
Dan akhirnya pun Umar berkata, "Baik, engkau aku cintai melebihi diriku sendiri"

Disini bahkan Ummu Misthoh lebih mencintai Aisyah (istri nabi) dibanding anaknya sendiri.

Padahal Misthoh ini kaum Muhajirin, ikut hijrah bersama Rosullulloh di bawah sinar terik matahari, dan selalu ikut perang,dan berjihad bareng Rosul.
Makanya disini, Abu Bakar ga habis pikir kenapa Misthoh bisa ngomongin Aisyah, langsung di samperin tuh Misthoh,, "kenapa kamu ngomongin Aisyah?, Hasan dari kalangan Anshor, jadi aku kasih uzur karena mungkin ga kenal, adapun Himna mungkin hanya seorang wanita jadi wajar deh kalo ikut makan gosip/fitnah, Abdullah Ibnu Salul kan jelas dia munafik, sedangkan kamu kan kaum Muhajirin, ponakan ku, dan kamu kan sama aku, kenal, dan bahkan sepeninggal ayah mu meninggal kan kamu ikut aku? Bersama ku dari kecil. (disini ibaratnya Misthoh udah kaya anak sendiri di sekolahin dan di asuh dari kecil, kalo Bilal bin Robbah aja di merdeka kan apalagi ini Misthoh ponakan sendiri). Apa alasan kamu seperti itu ke Aisyah?? Kalo musuh begitu kan wajar, tapi kamu kan masih keluarga ku??" 

Dan Misthoh ini kan miskin, kalo di Mekkah pada jaman itu miskin bisa habis, sedangkan disini Abu Bakar pasang badan, selalu melindungi. Kita tahu kisah Sahabat yang miskin di jaman Mekkah bisa habis oleh orang mekkah , seperti Bilal bin Robbah,Amar bisa di habisi, Yasir meninggal, Sumayyah Syahidah"

Dan disini di saat Abu Bakar butuh support, malah Misthoh ikut ikutan berita dusta. Dan akhirnya pun Abu Bakar bersumpah ga mau ngasih bantuan lagi ke Misthoh.

Jadi bisa kita ambil pelajaran, kalo Misthoh yang banyak prestasi nya saja bisa tergelincir apalagi kita. Dan hijrahnya kita jaman sekarang ini bisa jadi mudah karena mayoritas muslim dan mau denger ngaji pun mudah ga seperti jaman dulu yang sulit (tahun 80an 90an yang hijab sulit, mau ngaji mungkin ustadnya Minggu ini bisa Minggu depan bisa Mis/ga bisa datang)
Jadi hati hati. Kalo Misthoh saja bisa tergelincir, bagaimana kita. Maka waspada terhadap telinga kita. 

Dan si Misthoh ini datang ke tempat Abdullah Ibnu Salul. Seringkali kita Percaya diri, datang ke tempat yang bisa jadi fitnah/dusta. Apalagi kalo pembicara nya retorika nya bagus, retorika bisa menyihir . Jangan duduk sama mereka hingga mereka ganti topik. Pelajarilah dari Misthoh.

  1. Kita harus memfilter. Apapun yg kita dengar. 
  2. Kalo Misthoh bisa tergelincir, atau seperti Kaab bisa tergelincir, jika teman kita tergelincir maka kita harus menolong saudara kita, bukan di cibir/cela/jatuhkan. Ini bukanlah hal aneh jika ada orang lain salah.termasuk jika ada ustad yg keliru harus kita tolong, kita beri masukan yg baik, bukan di cela. Hijrah itu bukan mencetak malaikat dan bidadari. Dan hijrah itu membuat kita taat kepada Alloh dan jika salah kita harus tau bagaimana bersikap. Setiap keturunan nabi Adam pasti ada kesalahan. (Ali Imron:134) surga itu disiapkan Alloh untuk orang bertakwa, Orang bertakwa itu kata Alloh, yang suka memberi infak tidak mikir kondisi (lapang sempit),Menahan amarah, Senang memaafkan orang lain, dan apabila ia melakukan Fahisyah (dosa dosa besar) atau menzolimi diri mereka sendiri ,maka ia ingat kepada Alloh dan beristighfar kepada Alloh

Aisyah syok. Dan sakitnya bertambah parah. Dan segera pulang ke rumah. Dan setelah tiba di rumah,datanglah Rosullulloh ke rumah dalam keadaan Aisyah sudah tahu apa yang terjadi dan sedih.......
Apa yang terjadi? To be continued..... Di part selanjutnya :)


Q&A
  1. Hadist Ibnu Abbas, ketika Ibnu Abbas solat bersama nabi, Rosullulloh pernah menggeser Ibnu Abbas ke kiri, atau jika ada orang yang mau lewat ke tempat solat kita, maka cegahlah seperti mau perang, bukan membunuh tapi mencegah seperti mau perang. (Pertanyaan tentang kalo ada gerakan diluar solat, karena ga kedengaran ini pertanyaan nya :'(   )
  2. Disini bagaimana menyikapi fakta yang di jadikan gosip? Contoh saat kesalahan kita di masa lalu di gosipkan
---------->Jawabannya jangan mengungkapkan kesalahan seseorang. Jangan cari cari kesalahan orang lain/umat Islam baik personal maupun komunitas maka apabila kita memberi tahu kesalahan orang lain maka Alloh akan menyingkap kesalahan kita bahkan di tempat yang paling privasi sekalipun . Alloh akan membongkar aib kita, skandal kita bahkan di tempat yang kita ga tahu. Ini hal yang perlu kita cam kan. Dan apabila kita yg jadi korbannya, kita bisa belajar dari Aisyah. Dan jika memang kita korbannya, maka kita instrospeksi diri. Saat kita melakukan dosa maka pasti ada efek samping. Di akhirat maupun di dunia. Dan Alloh ga akan ngasih musibah karena setiap musibah pasti dari diri sendiri. Ada orang yang sengaja ga mau tahu, ga cari ilmu agar tidak tahu, kata Alloh, barang siapa yang berpaling dari ayat Alloh ,maka gaada uzur gaada maaf. Dan apabila memang kita bener2 ga tahu,maka side effect di dunia pasti ada. Misalkan ada suami yg memukul istri dengan dalil yg ada di Alquran, "jika istri mu durhaka,maka boikot lah di tempat tidur, dan pukullah" maka suami tersebut semangat memukul istri nya padahal kata Rosullulloh pukullah dengan sesuatu yg tidak menyakitkan, yaitu kayu siwak. Ga boleh sampai menyakiti. Maka akhirnya ada side effect. Setiap maksiat pasti ada side effect. Dan side effect ga harus langsung. Bisa jadi 13 tahun yang akan datang. Atau bahkan setelah kita hijrah. Jadi sebelum nyalahin orang lebih baik pikirin diri sendiri dulu. Jangan hobi mencari kambing hitam, mencari kesalahan orang lain. Jadi lihat akar masalah ,yaitu dosa kita. Dan jika memang kita pure di uji dengan berita dusta tersebut, maka positif thinking Alloh ingin mentransfer dosa kita ke orang yang ngomongin kita. Dan ga perlu kita mengklarifikasi karena setiap gosip biasanya satu Minggu juga sudah kelar. Tapi kalo kita klarifikasi, kita bilang kita ga begitu kok,kita aslinya baik kok maka yang ada malah jadi ga selesai selesai yang harusnya sudah selesai. Dan kita intinya ga perlu mensucikan diri kita ke orang lain. Yang penting Istighfar aja udah.
Dan evaluasi. Salah satu ulama di masjid Nabawi, bilang, pernah suatu ketika ada orang yang membuka aibnya, dan ulama tersebut hanya bilang, "Alhamdulillah, Segala puji hanya bagi Alloh ,sehingga aib aib ku yang banyak ini cuma tersingkap sedikit saja"
Ilmu selalu membuat kita menjadi tawadhu,menjadi rendah hati. Bukan menjadi orang yang sombong.
Imam Ahmad pernah bilang, semakin berilmu semakin merendah. Dan selalu merasa banyak dosa. Jadi kalo yg dikatakan cuma 1,2 dosa ya ga masalah karena sejatinya penuntut ilmu sejati ya selalu merasa banyak dosa, jadi ga masalah.

Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah......

Itu aja tulisan hari ini.. Alhamdulillah.. semoga Istiqomah, walaupun cuma begini tapi setidaknya nanti pas lagi tumbang dan inget, oiya aku pernah nulis seperti ini. Jadi inget lagi. Inget lagi. Belajar lagi. Untuk diri sendiri.

Wassalamu'alaikum