Tuesday, November 20, 2018

Part 7

Bismillah

Allohumma solli a'la sayyidina Muhammad wa ala Alihi Muhammad

Lanjutan hadist nya;
(Dikutip dari Sahih Bukhari No. 2661, Berdasarkan Fu’ad Abdul Baqi ,)
Maka pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri untuk kemudian meminta pertanggung jawaban ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Siapakah yang bisa mengemukakan pertanggungjawaban terhadapku terhadap seseorang yang telah kudengar telah menyakiti keluargaku?. Demi Allah, aku tidak mengetahui keluarga melainkan kebaikan semata. Sungguh mereka telah menyebut-nyebut seseorang laki-laki (maksudnya Shofwan yang diisukan selingkuh) yang aku tidak mengenalnya melainkan kebaikan semata, yang dia tidak pernah mendatangi keluargaku melainkan selalu bersamaku”.
Maka Sa’ad bin Mu’adz berdiri lalu berkata: “Wahai Rasulullah, aku akan membalaskan penghinaan ini buat anda. Seandainya orang itu dari kalangan suku Aus, kami akan penggal batang lehernya dan seandainya dari saudara-saudara kami suku Khazraj, perintahkanlah kami pasti akan kami laksanakan perintah Baginda tersebut”. Lalu beridirlah Sa’ad bin ‘Ubadah, pimpinan suku Khazraj, yang sebelumnya dia adalah orang yang shalih namun hari itu terbawa oleh sikap kesukuan: “Dusta kamu, kamu tidak akan pernah bisa membunuhnya dan tidak akan bisa membalaskannya”. Kemudian Usaid bin Hudhoir berdiri seraya berkata: “Justru kamu yang dusta, kami pasti akan membunuhnya. Sungguh kamu sudah menjadi munafiq karena membela orang-orang munafiq”.
Maka terjadilah perang mulut antara suku Aus dan Khazraj hingga sudah saling ingin melampiaskan kekesalannya padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih berdiri di atas mimbar hingga akhirnya Beliau turun lalu menenangkan mereka hingga akhirnya mereka terdiam dan Beliau pun diam.


Berikut link audio kajiannya;
https://m.soundcloud.com/the-rabbaanians/ust-muhammad-nuzul-dzikri-haaditsatul-ifki-saat-ibunda-kita-difitnah-part-07

Lanjutan Hadistul Ifki dari kajian The Rabbanians part 7

Anak muda ingin eksis,anak muda ingin dapat panggung tapi cuma ingin doang gaada kualitas. Padahal semuanya harus ada proses ga ada shortcut. Adapun Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid dikasih panggung oleh Rosullulloh karena mereka punya kualitas. Jadi kalo kita mau berkualitas,maka perbaiki kualitas. Maka bicara pemuda,pemuda bicara panggung, eksistensi, like, followers. Sedangkan pemuda yg terpenting bermanfaat bagi umat,ikhlas. Alloh mengatakan; Arrad:17 , buih itu hilang dengan cepat adapun yg bermanfaat bagi manusia itu akan eksis. Artinya orang yg berkualitas akan dapat panggung. Jika kita berkualitas maka ga perlu marketing. Seperti emas di Irian,orang Amerika pun datang tanpa harus marketing. Jika kita elegan,jika kita punya masterpiece, tanpa melamar sana melamar sini bisa jadi dia yang didatangi oleh Perusahaan Multinasional sehingga dia bingung pilih yang mana. Di saat orang lain sedang ekonomi lemah,cari pekerjaan susah tapi ada juga orang elegan yang bingung karena pilih Kerja di sana atau sini ya? Salary nya gedean yg mana ya? Kenapa dia bingung? Karena dia masterclass dan punya kualitas. Jika kita ingin eksis maka jangan pikir kita cari panggung tapi bagaimana kita memperbaiki kualitas,bagaimana kita bisa bermanfaat untuk banyak orang. Jika kita bermanfaat,maka Alloh sendiri yang akan kasih panggung, kasih eksistensi. Dan ini untuk semua bidang bukan cuma agama. Mental kita harus La Haula wala quwwata ila Billah, bergantung kepada Alloh. Bukan bergantung pada manusia. Jangan ngemis atau bergantung kepada manusia. Tapi berdoa, mengingat Alloh. Berjuang berjuang berjuang. Kalo kita ingin berhasil di dunia, maka bermanfaat lah bagi manusia. Itu kunci eksis. Buat hal yang bermanfaat. Khususnya untuk akhirat umat, dan untuk dunia umat. Dengan cara elegan. Tetap low profile dan tawadhu. Dan minta pertolongan Alloh. 


Lanjutan Hadistul Ifki
Keesokan harinya Nabi Muhammad Saw berdiri diatas mimbar. Lalu Nabi Muhammad Saw bertujuan untuk melemparkan apakah ada yang mensupport beliau atau ada yang memberi alasan kenapa isu tersebut bisa berkembang di kota Madinah. Lalu Nabi bersabda dihadapan umat islam saat itu, "Ya Ma'asyirol Muslimin,Siapa yang memberi uzur kepada diriku yang tekanannya dan serangannya sampai ke istriku?" Artinya seperti yg dijelaskan Al Hafidz Ibnu Hajar, Alasannya apa sampai dia tega menuduh istri ku berzina? 
Makna yang kedua, dan siapa yang mau mendukung ku untuk menghadapi dia?

Kita tau konsep orang Islam, kasih 70 uzur untuk saudara kita. Dan kita tau Ibnu Salul itu munafik, menyembunyikan kekafiran dengan Islam. Dan orang yang munafik itu dibakar nya di kerak neraka. Kalo orang munafik aja kita bisa kasih uzur. Bagaimana dengan saudara kita. Kasih uzur.
Ilmu itu membuat kita lebih saling menyayangi. Walaupun salah ya tetap bilang salah tapi tetap harus ada kasih sayang dan uzur. 
Padahal kesalahannya fatal, menuduh istrinya berzina. Padahal kalo mau Nabi eksekusi ya bisa karena Nabi Khalifah di Madinah. Dan juga kenapa mereka Munafik? Karena secara hitungan mereka kalah makanya mereka Munafik dan pake chasing Islam. Karena mereka secara militer dan senjata juga lemah orang munafik. 
Siapa yang mau dukung saya? Kata Rosullulloh. Karena jika yang diserang istrinya maka sama saja yg diserang adalah Nabi. Secara tidak langsung kalo mengurus istri nabi saja ga bisa (sampe berzina) gimana ngurus umat? Maka orang munafik ini menyerang nya tiktok dan transit dulu ke istrinya Aisyah. 
Dan aku tidak pernah mengetahui tentang istriku kecuali yang baik baik saja. Nabi Muhammad Saw membela istrinya sesuai dengan apa yg beliau ketahui. Aisyah baik sebaik baik nya. Kata Nabi. Dan mereka juga ga cuma nyerang Aisyah tapi juga seseorang yang selama ini kukenal baik (Shofwan bin Al Muatthol) dan orang ini tidak pernah bertemu dengan istriku kecuali bersama saya. 
Jadi Nabi membela Aisyah dan Shofwan.
Siapa yang ingin membela ku? Kata Nabi. 

Maka ada yang berdiri Sa'ad bin Mu'adz dari suku Auz, ( ada suku Auz dan Khajraz (2 suku di Madinah) )
Kalo orang itu dari suku Auz kita penggal kepalanya , tapi kalo dari Khojroz engkau tinggal bilang aja mau diapain maka akan kita eksekusi.
Begitu Sa'ad bin Mu'adz berkata demikian, Sa'ad bin Ubadah berdiri. Sa'ad bin Ubadah orang besar dari suku Khojroz. Kata Sa'ad bin Ubadah, "Wallahi, Engkau telah berdusta, Engkau tidak akan membunuh nya dan engkau tidak akan bisa membunuhnya"

Aisyah mengatakan, Sa'ad bin Ubadah ini orang Soleh, tapi pada saat itu terbawa suasana fanatik ke kabilahan. 

Ini sama sama sahabat padahal. Ini sama sama berbicara di depan forum. Intinya Sa'ad bin Ubadah ga terima kalo orang satu suku nya mau di eksekusi. Abdullah bin Ubay ibn Salul kan dari Bani Khozroz (yang munafik menghembuskan fitnah). Makanya Sa'ad bin Ubadah ga terima kalo suku nya mau di eksekusi.

Kemudian berkata lagi sepupu nya Sa'ad bin Mu'adz yaitu Usaid bin Uzair, "Kamu bohong demi Alloh ke Sa'ad bin Ubadah, kami akan bunuh orang tersebut"

Dan kondisi chaos. Udah mau perang saudara lagi. Dan Rosullulloh berusaha menenangkan. Diam semua diam. Jangan ada yang berbicara. Dan mereka sadar dan diam dan berakhir lah forum tersebut.
Akhirnya Nabi ga melanjutkan . Karena sudah ga kondusif. 

Maka dari itu harus hati-hati,oleh fanatisme terhadap suatu kelompok,suatu club. STM sama STM, SMA sama SMA, club' bola 1 dengan club' bola 1. Makanya harus waspada. Bergaul boleh . Tapi jangan fanatik pada tongkrongan. Fanatik pada suporter.
Fanatik itu ga boleh. Dan pasti akan chaos. Ini kan saad bin Mu'adz,saad bin Ubadah, kan mereka orang yang Soleh itu pun bisa kebawa suasana bisa chaos. Bergaul boleh. Punya komunitas boleh. Tapi jangan fanatik. Termasuk komunitas komunitas agama/dakwah. Ini pelajaran untuk kita jangan fanatik. Misalnya kita ngaji selama 3 tahun,lalu kita fanatik dengan ustad tsb,maka itu gagal. Dan ga boleh fanatik sama ustad. Itu hanya sarana. Kita memang berusaha yang terbaik,tapi kalo salah bilang salah,jangan fanatik. Dan ini terjadi kan?! Karena orang yang lebih berilmu itu bisa terjadi fanatik,apalagi kita yang ga mengaji. Bahkan beda Mazhab saja bisa fanatik. Para 4 imam Mazhab sudah wanti wanti, jangan fanatik jangan fanatik. Hati hati dengan fanatisme. Kita harus berpikir objektif.
Lihat Aisyah Ra, apapun alasannya apa yg dikatakan Ali bin Abi Thalib itu ga enak untuk Aisyah (saat Ali menyuruh Rosullulloh nikah lagi/ceraikan saja). Tapi Aisyah objektif. Dia ga marah sama Ali/Baper. 
Muhammad bin abi bakar (sepupu Aisyah) itu terbunuh oleh ibn khudaiz, suatu ketika Aisyah kedatangan tamu, lalu Aisyah tanya, kamu dari mana? Dan tamu tersebut berasal dari suku/wilayah ibn khudaiz,kemudian Aisyah tanya,kenal ibnu khudaiz ga?, Dan jawaban mereka , iya kenal,Ibnu khudaiz itu pemimpin kami yg jempolan deh, kalo kita perang pasti diganti sama Ibnu khudaiz (jika kita pake kuda /modalnya di balikin ,;contoh), Nah tamu ini bertanya hadist kepada Aisyah, tapi Aisyah berbicara, Meskipun Ibnu Khudaiz sudah membunuh kakak ku tapi tidak menghalangi ku untuk mengatakan satu hadist dari Nabi Muhammad Saw kepada tamu tsb (1 wilayah/suku dari Ibnu khudaiz). Jadi kita lihat bahwa Aisyah sangat objektif dan amanah. Tidak fanatik benci pada satu kaum/fanatik ke kabilahan. Hadist yg dibawakan Aisyah pada saat itu diriwayatkan oleh Imam Muslim; "ya Alloh, barangsiapa yg memimpin perkara umatku dari yg terkecil sampai terbesar (pemimpin dalam lingkup rumah tangga,RT,RW sampai lingkup yg terbesar) lalu dia lemah lembut dengan yg dia pimpin maka sikapi dia dengan lemah lembut,tapi jika dia kasar dan semena mena/zalim maka balas ya Alloh"

Ibnu Hubairah adalah Mentri di Bani Abbasiyah,suatu ketika dia keceplosan ngatain ulama keledai, kemudian dia sangat menyesal, lalu dia minta maaf kepada ulama tersebut dan minta di katain serupa biar ga dihisab di akhirat tapi ulama tersebut ga mau, dan akhirnya Ibnu Hubairah membayar ulama tersebut dengan uang yg sangat banyak agar dimaafkan.

Jadi kita harus selalu merasa bodoh,dan takut kepada Alloh. Kenapa ulama bisa objektif,karena dia merasa kecil. Imam Ahmad ketika ditanya niatnya belajar apa sih? Maka jawaban Imam Ahmad menjawab agar merasa kecil. Kita belajar harus seperti itu. Ga boleh fanatik. Dan harus objektif. Sa'ad bin Ubadah itu Soleh banget tapi masih bisa kena ke fanatikan kekabilahan. Bahkan Sa'ad bin Ubadah pernah menawari Rosullulloh untuk menjaga rumahnya agar tidak diserang musuh. Orang nya baik dan tulus. Beliau kalo perang bawa bendera Anshor. Kalo perang yang bawa bendera Rosullulloh adalah Ali bin Abi Thalib. Jadi, Sa'ad bin Ubadah saja bisa kena fanatik, dan ga terima kalo ada satu suku nya di eksekusi. Fanatisme ini bahaya.

Imam Syafi'i pernah berkata, Tidaklah aku berbicara dengan seorang muslim,diskusi dengan orang muslim,debat dengan orang muslim , ga peduli jika aku yg benar atau dia yg benar, tapi yg penting kebenaran yang bisa saya bawa pulang.

Objektivitas pada hari ini sangat langka (kata imam Malik)

Al maidah ayat 8; jangan sampai ketidaksukaan kalian terhadap suatu kaum membuat kamu tidak objektif/tidak adil dalam menilai, objektif/adil lah dalam menilai karena objektif lebih mendekatkan pada ketakwaan.

Mata kalo udah ga suka sama seseorang maka tidak ada benarnya tuh seseorang tsb. Mata manusia secara umum seperti itu. Dan mata ini kalo udah suka sama seseorang pasti bener aja orang tsb. Salah pun bisa di tafsirkan menjadi benar aja udah. Di bela orang tsb. Nah ini tidak boleh terjadi. Kita harus objektif. Kalo salah bilang salah atau benar bilang benar. 

Kita harus membangun mental objektif di dunia dakwah , pergaulan. Bukan mental menang menangan atau fanatisme. 

Q:A


  1. Apa artinya Suami mu adalah Surgamu atau Neraka mu? Jawabannya: Lihatlah bagaimana suami mu menilai mu, karena Suami mu adalah Surgamu/neraka mu. Maka lihatlah kewajiban. Seperti apapun suami kita, kita harus berupaya mendapatkan hati dia dan mendapat penilaian/keridhoan suami. Jadi tetep melakukan kewajiban menjadi istri yg baik. Bagaimanapun suami nya. Dan makanya kita cari suami yg bertakwa dan beriman kepada Allah. 
  2. Bagaimana adab jika ada orang tua yang memanggil kita dengan suara keras/teriak? Lihat Al Isro ayat 24, dan turunkan kepakan sayap kepada orang tua dan ketawadhuan kepada orangtuanya. Maka dikembalikan ke urf masing masing. Sesuai budaya masing masing. Tapi intinya kita bersikap rendah dihadapan ortu kita. Jadi kita harus melayani dan merendah di hadapan ortu kita.