Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah wassholatu wassalamu'ala Rosulillah,
Akhirnyaaa setelah terseok seok, bisa ngelanjutin part 6 Hadistul Ifki :)
Ini link audio nya
Dan ini catatan aku dalam pertemuan kajian ini :)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid ketika wahyu belum juga turun untuk mengajak keduanya bermusyawarah perihal rencana menceraikan isteri-isteri Beliau. Adapun Usamah, ia memberi isyarat kepadanya dengan apa yang diketahuinya secara persis karena kecintaannya kepada rumah tangga Rasulullah. Usamah berkata: “Keluarga Baginda wahai Rasulullah, demi Allah tidaklah kami mengenalnya melainkan kebaikan semata”. Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai Rasulullah, Allah tidak akan menyusahkan Baginda sebab masih banyak wanita-wanita lain selain dia dan tanyakanlah kepada sahaya wanitanya yang dia akan membenarkan baginda”.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Barirah lalu berkata: “Wahai Barirah, apakah kamu melihat pada diri Aisyah sesuatu yang meragukan kamu tentangnya?” Barirah menjawab: “Demi Dzat Yang mengutus Baginda dengan benar, sama sekali aku belum pernah melihat aib pada diri Aisyah yang bisa kugunakan untuk membongkar aibnya, kalaupun aku melihat sesuatu padanya tidak lebih dari sekedar perkara kecil, yang ketika dia masih sangat muda dia pernah ketiduran saat menjaga adonan rotinya, lantas ada hewan ternak datang dan memakan adonan tersebut“.
..............
( Muqaddimah part 6,
Review ilmu itu penting,Bukan banyak banyakan ilmu,tapi ngerti dan di resapi ilmu nya.
Ummu Rumman kasih tips: Sederhana kan masalah. Puji dia, memuji orang. Pastikan dia ga sendirian, dia punya temen yg care sama dia. Angkat moril. Sampaikan kepada dia, bahwa masalah itu dialami banyak pihak, bukan cuma dia sendirian di dunia. Makanya kata Ummu Rumman,hal ini pasti di alami oleh semua orang yg di madu. Ummu Rumman ga mencari kambing hitam tapi mengajarkan Aisyah menjadi sosok yg wise dan bijaksana. Karena seringkali kita di curhatin sama orang tapi kita ga ngerti gimana cara bersikap, bagaimana cara menghadapi teman kita yg kena masalah.
Rosul bersabda; Amalan yg Alloh paling cintai adalah yg Istiqomah meskipun sedikit. Dan pahala itu tergantung tingkat kesulitan seorang hamba, jika kita menuntut ilmu semakin sulit/macet, maka semoga semakin berkah. Toh, perjuangan kita menuntut ilmu juga gaada apa apanya di banding ulama jaman dahulu yg hingga lintas benua demi menuntut ilmu..)
Aisyah menangis, dan sampai pagi menangis. Hingga tangisannya di dengar oleh Abu Bakar Assidiq ayahnya Aisyah, saat itu Abu Bakar sedang membaca Al Qur'an. Kemudian Abu Bakar bertanya kepada Ummu Rumman, "kenapa Aisyah menangis?" Dan Ummu Rumman menjawab, "Aisyah baru tahu masalah yg terjadi (tentang gosip fitnah Aisyah Zina)". Mendengar hal tsb, Abu Bakar menangis. Dan ini menyadarkan kita bagaimana orang tua sakit ketika kita sakit. Terpukul ketika kita terpukul. Meskipun kadang kita gasadar orangtua kita menangis. Dan seringnya kita durhaka lagi,durhaka lagi. Ini Abu Bakar loh yg nangis,Ayah, jadi kalo udah anak, maka Ayah yg bak singa di luar,bisa jadi menangis saat anaknya tersakiti. Hingga Abu Bakar bersumpah; "Aku bersumpah, demi Alloh,Kamu akan balik lagi ke rumah Rosullulloh Muhammad Saw, ayah akan perjuangkan kamu, InsyaAlloh badai ini pasti berlalu, kamu akan rukun lagi dengan Muhammad saw". Sehingga ini penting nya birrul walidain. Bisa jadi orangtua kita mendoakan kita di sujud sujud mereka. Padahal Aisyah juga gatau kalo Ayahnya mendengar tangisan Aisyah.
Keesokan harinya,nabi Muhammad Saw mengundang Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid . Tentang kemungkinan akankah Muhammad akan menceraikan atau bersatu. Jadi Nabi Konsul dan ngajak diskusi. Ini pelajaran bagi kita semua, kalo sekelas Nabi Muhammad Saw bisa musyawarah dalam masalah rumah tangga,masa kita bisa memutuskan sendiri? Banyak dari kita yg udah married, bikin keputusan sendiri, ngandelin diri sendiri. Ini ga tepat. Libatkan pihak lain. Dan harus di tekankan, misal kita suka sama seseorang ketika mau married, jangan putuskan sendiri, tapi libatkan orangtua,ustadz, yg helikopter view dari atas,yg objektif. Karena kalo kita udah suka, maka kita ga bisa berpikir objektif. Jadi dari sinilah, kenapa Islam ga mendukung pacaran, karena kalo udah suka,udah pacaran maka ga bakal objektif. Cinta itu bikin buta. Jadi libatkan orang lain, yaitu salah satunya orangtua, karena orangtua lebih pengalaman dalam berumah tangga.
Ketika Wahyu belum turun turun, maka Nabi libatkan orang lain. "Ali Imron: 159. Dan bermusyawarahlah dengan mereka". Dalam tafsir At Tohari, ini luar biasa karena Alloh memperintahkan Nabi untuk bermusyawarah,padahal Nabi Muhammad Saw adalah yg paling berilmu,paling bijak disuruh Musyawarah dengan para sahabat yg notabene tidak lebih pandai dari beliau,tidak lebih bertakwa dari beliau,tidak lebih alim, bijak,cerdas dari beliau. Tapi kenapa? Karena Rosullulloh Muhammad Saw mencari berkah dari Musyawarah. Kenapa? Karena jaman sekarang, ketika orang yg berkeluarga memutuskan keputusan sendiri dan tidak bermusyawarah maka ga berkah dan banyak kasus perceraian yg tidak di Konsul kan ke Ahli ilmu malah bercerai padahal sebenarnya bisa di selamatkan. Sedangkan mereka hanya merasa pintar, bisa memutuskan, dan gaada yg bisa diselamatkan ya akhirnya mereka putus bercerai dan divorce rumah tangga mereka.
Sedangkan disini Nabi Muhammad Saw mengajar kan kita bermusyawarah. Ini penting. Rosul bersabda; lihatlah bagaimana suami mu melihat mu,karena suami mu adalah surga dan neraka mu. Istri yg terbaik adalah yg paling menyenangkan dilihat suaminya. Dan Rosullulloh Saw paling ngerti urusan rumah tangga. Jadi jangan merasa bisa sendiri. Terutama calon pemimpin/suami karena biasanya suami itu ga mau cerita dan paling tertutup masalah rumah tangga.
Karena pemimpin tidak mau terlihat gagal saat memimpin. Makanya kenapa kalo ada masalah rumah tangga dan masalahnya ada di suami maka susah banget untuk ngajak suami bicara ke ahli ilmu. Beda jika istri yg punya masalah maka masih mau share. Karena pemimpin ga mau dipermalukan. Tapi Nabi Muhammad Saw tidak. Ini pelajaran hidup. Jangan putuskan sendiri masalah keluarga. Kenapa, karena kalo divorce maka anak bisa hancur, cucu hancur, keluarga hancur, hubungan mertua hancur. Maka ga enak dan ga baik. Karena Semua nikmat akan ditanya oleh Alloh. Termasuk keluarga,, keluarga adalah kenikmatan dan nanti akan ditanya juga,kenapa anda putuskan bercerai tanpa berjuang atau bermusyawarah sebelumnya?? Kalo Nabi aja bisa disuruh Musyawarah, kenapa kita ga mau?? Padahal kita ga berilmu kecuali sedikit.
Jangan main ego. Kita belum belajar fikih pernikahan,manajemen konflik dalam berkeluarga.
Karena musyawarah itu berkah. Ali Imron : 159. Dan solusi bisa terjadi, dari semua pemikiran yg hadir dalam bermusyawarah.
Dan yg menarik, yg dipanggil nabi Muhammad Saw untuk bermusyawarah adalah Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Bukan Umar bin Khattab atau Usman bin Affan.
Dan Ali bin Thalib,Usamah bin Zaid itu anak muda. Mereka berdua pada saat itu dibawah 30 tahun. Bahkan Usamah bin Zaid disinyalir pada saat itu berusia 13 tahun. Apa penyebabnya??
Al hafidz Ibnu Hajar mengatakan;
- Ali dan Usamah tumbuh bersama Rosullulloh. Ali dan Usamah dididik oleh Beliau. Jadi udah mengerti Nabi. Ini masalah privasi. Dan salah satu yg paling tau pribadi Nabi adalah mereka berdua karena sudah pernah tinggal satu atap .
- Ini adalah masalah sensitif. anak muda itu otaknya masih fresh dan lebih berani ceplas-ceplos . Beda sama 'orang tua'. Apalagi kalo yang nanya Nabi, pasti yg generasi 'orang tua' lebih jaga perasaan,ga enak dan lebih banyak pertimbangan.sedangkan anak muda lebih ceplas-ceplos apa adanya dan Nabi membutuhkan jawaban yg apa adanya ceplas-ceplos aja pada saat itu. Dan ini pelajaran, kalo kita pengen curhat kita lihat dulu kepada siapa kita mau tanya/musyawarah. Jangan sama ke semua orang di share. Mudah share curhatan . Cari orang yg kita kira ngerti masalah kita. Bukan ke semua orang. Tapi lihat juga, mereka wise engga. Seperti Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid juga sangat matang, bijaksana. anak muda pengen nyari panggung,apa aja diikuti agar bisa eksis. Ada tren apa diikuti. Dan ini jangan. Makanya banyak anak muda yg ga dilibatkan dengan masalah keluarga, masalah hukum waris karena ya anak muda nya ga ngerti ilmu. Jadi cara eksis itu belajar, kajian, belajar agama,pelajari Al Qur'an dan Hadits nabi Muhammad Saw. Dan kenapa Ali bin Abi Thalib bisa eksis tanpa mencari eksistensi, padahal banyak sahabat nabi yg lain, dan Usamah juga anak muda yg dimintai saran oleh nabi? Karena matang. Mereka tumbuh di atmosfer Nabi dan tumbuh dgn Sunnah Nabi. Mereka yg dalam berpikir,( Barangsiapa yg berpegang teguh dengan Sunnah nabi, maka ucapan derap langkah dan sikapnya hikmah dan bijak.) Meskipun masih muda umur 21 tahun, tapi karena copy paste Nabi, yg diutus sudah kepala 4, maka ya cara berpikirnya matang seperti orang yg berkepala 4. Sikap attitude tingkah nabi yg sudah matang dalam semua sisi. Contoh beliau. Jangan hanya ikut tren yg ga penting, jika diikuti ya engga bijak bijak/matang matang.
Kita ga bicara teori,tapi real.
Dan Rosullulloh menceritakan masalah yg dialami ke Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid,kita lihat apa kata mereka. Dan mereka pun sudah tahu berita ini. Usamah bin Zaid mengarahkan masalah ini sesuai ilmu nya, bahwa Aisyah bersih. Aisyah roji' kata Usamah. Aisyah ga zina. Dan Usamah memastikan Aisyah sayang sekali dengan Nabi Muhammad Saw. Dan Usamah melanjutkan , Wahai Rasulullah,mereka adalah istri istri Engkau. Kata para Ulama,Usamah bilang kata ganti "mereka" untuk menjelaskan konsep bahwa seluruh istri mu, termasuk Aisyah bersih dan tidak berzina,, karena mereka adalah istri-istri Nabi. Dan istri sang Nabi ga mungkin punya rapot merah seperti itu karena suaminya Nabi.
Yg buruk untuk yg buruk, laki laki yang buruk untuk wanita buruk, laki laki yang baik untuk wanita yang baik. Dan Usamah bin Zaid mengatakan itu padahal ayat An Nur : 26 belum turun,ayat ini turun di akhir cerita ini. Jadi Usamah ini bener bener keren pikiran nya.
Jadi Nabi pasti mencari/punya istri yg berkualitas. Kita yg bukan Nabi saja ingin punya pasangan yg berkualitas. Jadi ga mungkin istri Nabi buruk.
Buya Hamka pernah bilang juga dari salah satu tafsir, bahwa Kata kata yg buruk akan keluar dari orang yang buruk (hati nya buruk)
Kata Ali bin Abi Thalib; "wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita selain Aisyah itu banyak." Banyak pihak yg kaget mendengar perkataan Ali bin Abi Thalib. Dan banyak ulama yg beranggapan bahwa Usamah bin Zaid lebih tepat. Tapi mari kita lihat apa kata Imam an Nawawi, Usamah bin Zaid melihat dari frame lebih ke Aisyah. Adapun Ali bin Abi Thalib melihat dari frame nabi Muhammad Saw. Ali bukan benci Aisyah,tapi disini Ali ga tega jika Nabi Muhammad Saw disakiti karena kasus ini. Karena Ali melihat orang yg dia cintai melebihi dirinya (Nabi Muhammad Saw) memiliki tekanan karena masalah ini, dan Ali memberi opsi bagaimana kalau keluar aja dari masalah ini dan lepas dari tekanan/disakiti oleh orang lain. Atau kata para Ulama, apa yg dikatakan Ali yg dimaksud, 'Ceraikan Aisyah, kemudian nanti masalah berangsur angsur tenang dan nanti akan jelas tersingkap, nanti Aisyah bersih dan dinikahi lagi. Maka clear masalah. ' bukan karena benci Aisyah tapi agar tenang dulu masalah. Kan baru talak 1. Yg ga bisa dinikahi kalo talak 3/talak roji'. Atau kata Ali, "atau antum,panggil saja seorang wanita,tanya tentang Aisyah,nanti akan dibenarkan antum"
Dan akhirnya nabi Muhammad Saw memanggil Bariroh,seorang wanita, dan nabi bertanya, "Wahai Bariroh,bagaimana menurut kamu tentang Aisyah ra"? Kata Bariroh, "ya Rosullulloh Saw, kalo pun Aisyah punya aib/kesalahan itu karena dia masih kecil (13 tahun) masih gadis kecil, seperti disuruh jagain adonan, ketiduran dan lalu adonannya dimakan kambing karena ketiduran,itu saja"
"Maksudnya kalo kita mau nyalahin Aisyah, itu karena waktu itu Aisyah keluar ga bilang bilang " (seperti dijelaskan part 1)
Lalu di goreng sama oknum, jadi begini deh. Kalo mau salahin Aisyah salahin pas dia keluar ga bilang bilang itu (part 1) ,selebihnya gaada salah, Aisyah tanpa cacat kok.
Maka bener kata Ali bin Abi Thalib, "coba antum tanya wanita, pasti dia akan benarkan apa kata antum" (pasti akan mengatakan Aisyah ga bersalah) artinya Ali bin Abi Thalib kata para ulama, hanya memberi opsi ke Nabi, ("antum, mau menyelesaikan masalah ini dengan cepat,atau nunggu?, Saya yakin Aisyah bersih. Tapi kalo mau cepat nyelesai in masalah, ceraikan Aisyah,tekanan menurun dan nanti dinikahi lagi")
Jadi ga bener kalo Ali bin Abi Thalib benci Aisyah, atau sebaliknya Aisyah sakit hati dengan Ali. Mereka adalah anak muda. Dan Aisyah ga baper saat Ali nyuruh ceraikan Aisyah. Bahkan Aisyah dibeberapa kesempatan memuji Ali bin Abi Thalib. Ketika beliau ditanya, kepada siapa kami berbaiat? Aisyah menjawab, "pegang tuh Ali bin Abi Thalib" atau dalam riwayat lain, hadist riwayat Muslim , Aisyah ditanya, siapa yg kita baiat setelah Usman?, Aisyah menjawab,Ali bin Abi Thalib. Lalu ketika ada sahabat yg nanya tentang bagaimana mengusap khuff,mengusap sepatu boots/kaos kaki yg menutup sampai atas mata kaki ke Aisyah, kata Aisyah, Alaika bi ibni Abi Thalib,kamu dalam masalah ini cek ke Ali bin Abi Thalib karena dia sering safar bersama Nabi.
Jadi ga baperan. Ali husnuzon sama Aisyah dibuktikan kalo clear masalah maka nikah lah lagi dengan Aisyah, begitu pun Aisyah juga husnuzon dengan Ali, saat Ali mengatakan wanita selain Aisyah itu banyak. Karena disini mereka ga saling baper. Coba kalo baper bisa repot masalahnya. Lihatlah mereka anak muda, selalu positif thinking, husnuzon.
Seperti halnya dikatakan Buya Hamka, negatif thinking itu lahir dari orang yg punya hati yg buruk. Jadi khobisat (an nur:26) tafsirnya bukan hanya wanita tapi juga perkataan buruk juga lahir dari orang yg hatinya buruk, kata kata yg buruk,pola pikir yang buruk hanya dimiliki oleh Al khobisin (orang orang yg buruk).
Jadi dalam berumahtangga harus mengedepankan husnuzon. Ketika berhadapan dengan mertua,pasangan. Ketika ada isu entah di kantor, maka husnuzon dulu. Inget,disini isu nya se kota Madinah, tapi Usamah bin Zaid husnuzon, Bariroh Husnuzon. Jadi belum tentu yg kita pikir sudah A1 fakta karena semua orang berpikir demikian, tapi bisa jadi salah maka kedepankan husnuzon.
Dan Rosullulloh saw tidak menceraikan Aisyah. Dan tetap mempertahankan Aisyah Ra. Dan beliau menyelesaikan diskusi musyawarah bersama Usamah bin Zaid dan Ali bin Abi Thalib.
Kemudian Rosullulloh berbicara di hadapan sahabat sahabatnya. Beliau berdiri diatas mimbar. Dan semua sahabat menunggu apa yg akan disampaikan Nabi Muhammad Saw,dan .............. akan di lanjut part selanjutnya :)
Sesi Q:A
- Ada yg bertanya bagaimana jika ada perempuan Mawar menjodohkan temannya Melati ke seorang Pria. Lalu ternyata ada konflik menjelang menikah antara Mawar dan Pria yg menikah. Hingga menikah lah Melati dan Pria tapi akhirnya mereka berdua memusuhi yg nyomblangin (mawar) karena fitnah
jawaban ustadz: Dalam dunia perjodohan/disini pencomblangan ini ada ilmu,kaidah dan fikh nya sendiri. Ga boleh asal-asalan. Memang sepakat, nyomblangin dan akhirnya berhasil itu pahalanya gede banget. Tapi semua investasi besar itu High Risk (resiko nya tinggi). Kalo mis/kesalahan yg nyomblangin ikut bertanggung jawab di akhirat. Dan banyak kasus orang yg nyomblangin itu ga pake kaidah,SOP nya maka akhirnya banyak yg mis / kesalahan
Bagi yg nyomblangin kalo emang sudah pake kaidah/ilmu tapi di fitnah maka itu cobaan ujian keihklasan. Karena setiap interaksi itu cobaan/ujian. Sabar atau engga. Dan Alloh maha melihat duduk permasalahan. Kalo kita ngarepin keihklasan maka ketika di fitnah ya sabar. Tapi kalo ternyata nyomblangin ga pake kaidah maka perbanyak istighfar dan bertaubat kepada Alloh.
Karena menikah itu bukan cuma pas hari H, inti pernikahan adalah hari hari setelah pernikahan. Dan apabila kita nyomblangin tapi divorce,maka kena dosa nya kita, kalo punya anak dan anak nya menjadi terbengkalai kita juga ikut dosa karena kita sebab masalah prahara itu terjadi. Maka harus dengan fikh ga boleh sembarangan. Harus hati hati dalam dunia perjodohan. Ga boleh asal husnuzon ketika di dunia perjodohan.
- Bagaimana jika orangtua bertengkar di hadapan anak,apa yg harus anak itu lakukan?
Jawaban ustadz: Fa'atikula Haqqin Haqqoh, Berikan hak nya masing masing. Jangan memihak. Jangan membela salah satu dan akhirnya menzolimi yg lain. Karena bagaimanapun mereka ada lah orangtua kita. Kita ga boleh benci mereka . Doakan mereka supaya mendapat hidayah,banyak bersujud. Dan minta pertolongan Alloh, dalam sabar solat. Dan ikuti konsep Ummu Rumman (sederhana kan masalah, menyatukan bukan menggoreng masalah)
Baik, itu saja hari ini.. Alhamdulillah.. Mohon maaf.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh
No comments:
Post a Comment